Jejak Nuklir Indonesia dari Pertanian hingga Kesehatan, Kini Menuju Era PLTN

- Pewarta

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HARIANBANTEN.COM – Indonesia terus mematangkan persiapan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai salah satu sumber energi untuk memenuhi kebutuhan listrik jangka panjang sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Arah kebijakan tersebut diperkuat melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN). Regulasi ini mendorong pengembangan energi baru, termasuk nuklir, dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan, keamanan, safeguards atau pengawasan pemanfaatan nuklir untuk tujuan damai, jaminan pasokan bahan baku, serta pengelolaan limbah radioaktif.

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Syaiful Bakhri, mengatakan pengembangan PLTN membutuhkan kesiapan setidaknya 19 aspek infrastruktur. Aspek tersebut meliputi teknologi, sumber daya manusia (SDM), lokasi pembangunan, hingga pendanaan.

“Dan bagi kita [BRIN], saya pikir Indonesia sudah siap dengan berbagai komponen tadi sebenarnya. Mulai dari tapak sudah ada SDM, kita tidak kekurangan,” kata Syaiful, Jumat (9/10/2026).

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari sisi teknologi, Syaiful menilai Indonesia tidak harus menunggu inovasi reaktor terbaru untuk memulai pembangunan PLTN. Sejumlah teknologi reaktor yang telah tersedia secara komersial dapat menjadi pilihan, terutama reaktor nuklir berkapasitas besar atau large nuclear reactor.

Dalam perencanaan energi jangka panjang, kapasitas pembangkit listrik tenaga nuklir diproyeksikan mencapai sekitar 35–42 gigawatt (GW) pada 2060. Sementara itu, kontribusi energi nuklir ditargetkan mencapai sekitar 11,7–12,1 persen dari bauran energi primer.

Adapun PLTN komersial pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2032 dengan kapasitas 250 megawatt (MW), sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.

“Kita tinggal pilih sebenarnya. Banyak yang sekarang ready untuk kita pesan, terutama yang large, bukan yang small modular reactor,” ujarnya.

Menurut Syaiful, pemanfaatan teknologi yang telah tersedia secara komersial dapat mempercepat pengembangan PLTN. Terlebih, Indonesia membutuhkan perencanaan kapasitas nuklir dalam skala besar, mulai dari 7 GW hingga 35 GW, bahkan 45 GW dalam jangka panjang.

BRIN juga telah mengidentifikasi 28 lokasi potensial untuk pengembangan energi nuklir. Lokasi-lokasi tersebut dapat ditindaklanjuti melalui kajian lebih lanjut untuk menentukan kelayakan pembangunan PLTN.

Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Sripeni Inten Cahyani, menilai Indonesia telah memiliki sejumlah modal awal untuk mengembangkan energi nuklir. Ketersediaan SDM, regulasi, dan lokasi potensial dinilai dapat menjadi fondasi bagi pembangunan PLTN.

“Sebenarnya tinggal menunggu dari Presiden mengatakan ‘Indonesia Go Nuclear’ selesai. Karena dari sisi BRIN sudah siap,” ujar Sripeni.

Meski demikian, ia menilai tantangan berikutnya adalah mengonsolidasikan berbagai sumber daya dan institusi agar pengembangan nuklir dapat berjalan sebagai program nasional yang terarah.

Sripeni menyebut Kalimantan Barat dan Bangka Belitung sebagai dua wilayah yang potensial untuk pengembangan PLTN. Penentuan lokasi, menurutnya, perlu mempertimbangkan kebutuhan listrik di masing-masing wilayah, terutama untuk mendukung pertumbuhan industri.

“Kita sudah punya resource-nya, tetapi belum dikonsolidasikan, belum ditandai bahwa kita mulai. Jadi perlu ada task force,” terangnya.

Selain reaktor berkapasitas besar, teknologi Small Modular Reactor (SMR) juga menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan. Teknologi ini dinilai relevan untuk memenuhi kebutuhan listrik kawasan industri maupun wilayah dengan kebutuhan energi yang besar dan spesifik.

Sripeni menambahkan, pengembangan energi nuklir perlu diselaraskan dengan proyeksi pertumbuhan kebutuhan listrik nasional. Permintaan listrik pada masa mendatang tidak hanya berasal dari rumah tangga, tetapi juga dari sektor industri, kawasan ekonomi, pusat data, serta pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Nuklir Tak Hanya untuk Pembangkit Listrik

Di luar rencana pembangunan PLTN, teknologi nuklir telah dimanfaatkan untuk mendukung berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga kesehatan.

Ketua Umum Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI) sekaligus mantan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot S. Wisnubroto, mengatakan penerimaan masyarakat terhadap teknologi nuklir cenderung lebih mudah ketika manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.

Dalam sektor pertanian, teknologi radiasi dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses pemuliaan tanaman melalui induksi mutasi. Proses tersebut memungkinkan peneliti menghasilkan variasi genetik yang kemudian diseleksi untuk mendapatkan karakteristik tanaman yang diinginkan.

Karakteristik tersebut antara lain masa panen yang lebih singkat, batang lebih kokoh, kebutuhan air yang lebih efisien, hingga peningkatan produktivitas hasil pertanian.

“Tanaman yang tadinya panen satu tahun sekali bisa menjadi beberapa bulan sekali. Yang tadinya tinggi dan mudah rebah menjadi lebih pendek, lebih hemat air, atau produktivitas yang tadinya hanya lima ton per hektare menjadi sembilan ton per hektare,” ujar Djarot.

Ia menegaskan, pemanfaatan radiasi dalam proses pemuliaan tanaman tidak serta-merta membuat hasil pertanian menjadi berbahaya untuk dikonsumsi. Teknologi tersebut digunakan dalam proses pengembangan varietas, bukan untuk membuat tanaman menjadi radioaktif.

“Ini hanya proses alami yang dipercepat. Yang biasanya menggunakan matahari, ini menggunakan radiasi,” terangnya.

Meski demikian, Djarot mengakui masih terdapat masyarakat yang mempertanyakan keamanan produk pertanian hasil pemanfaatan teknologi nuklir. Karena itu, sosialisasi diperlukan untuk menjelaskan proses pemuliaan, aspek keamanan, serta manfaat teknologi tersebut bagi sektor pertanian.

Salah satu contoh pemanfaatannya adalah produk yang dikenal sebagai “beras nuklir” di Sulawesi Tengah. Menurut Djarot, produk tersebut telah dipasarkan dan mendapat sambutan baik dari masyarakat. Keberadaan Technopark di wilayah itu turut mendukung pengembangan hasil riset teknologi nuklir di sektor pertanian.

Pemanfaatan Nuklir di Bidang Kesehatan

Selain pertanian, teknologi nuklir juga dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, khususnya untuk prosedur diagnosis dan terapi medis yang menggunakan radiasi.

Ketua PKNTMI, Yustia Tuti, mengatakan aspek keselamatan menjadi bagian penting dalam edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan teknologi nuklir di bidang kedokteran.

Menurut Yustia, setiap penggunaan radiasi memiliki risiko. Namun, dalam prosedur medis, dosis radiasi diperhitungkan sesuai kebutuhan, tujuan tindakan, dan pertimbangan klinis.

“Kalau risikonya setiap radiasi ada tetapi sangat kecil,” ujar Yustia.

Ia menambahkan, tantangan penerimaan teknologi kedokteran nuklir terkadang muncul karena tenaga medis maupun pasien masih khawatir terhadap efek radiasi. Padahal, risiko dan efek samping perlu dinilai berdasarkan jenis prosedur, dosis, serta kondisi pasien, dan ditangani sesuai standar medis.

Berbagai pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa teknologi nuklir di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan rencana pembangunan PLTN. Teknologi ini juga telah dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan varietas pangan, pelayanan kesehatan, dan kegiatan industri.

Ke depan, pengembangan energi nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik jangka panjang perlu berjalan beriringan dengan perluasan pemanfaatan teknologi nuklir di berbagai sektor. Kesiapan teknologi, sumber daya manusia, regulasi, keselamatan, serta penerimaan masyarakat menjadi bagian penting dalam menentukan arah pengembangan nuklir di Indonesia.

Berita Terkait

Pelaku Begal Sopir Taksi Online Pamulang Ditangkap Tim Jatanras Polda Metro Jaya
Berlumuran Darah Akibat Ditusuk, Begini Kronologi Sopir Taksi Dibegal di Pamulang
Driver Taksi Online Dibegal di Pamulang: Kepala Ditusuk, Mobil Dibawa Kabur
Festival Paus Ulsan Ke-30 Rayakan Hari Jadi Bersejarah, Angkat Transformasi Jangsaengpo Menjadi Destinasi Ekowisata Unggulan
UOB Asset Management Soroti Peluang Investasi di Tengah Perubahan Kebijakan Global
AIRA Factoring Catat Nilai Pembiayaan Rantai Pasok Digital Lebih dari THB 1 Miliar Berkat Dukungan NEC Thailand
Seorang Warga Tewas Tertemper Kereta di Ciputat
Manfaatkan Musim Kemarau, Pemkot Tangsel Kebut Proyek Turap di 3 Lokasi Banjir
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:52 WIB

Jejak Nuklir Indonesia dari Pertanian hingga Kesehatan, Kini Menuju Era PLTN

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:28 WIB

Pelaku Begal Sopir Taksi Online Pamulang Ditangkap Tim Jatanras Polda Metro Jaya

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:24 WIB

Berlumuran Darah Akibat Ditusuk, Begini Kronologi Sopir Taksi Dibegal di Pamulang

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:22 WIB

Driver Taksi Online Dibegal di Pamulang: Kepala Ditusuk, Mobil Dibawa Kabur

Jumat, 9 Oktober 2026 - 10:26 WIB

Festival Paus Ulsan Ke-30 Rayakan Hari Jadi Bersejarah, Angkat Transformasi Jangsaengpo Menjadi Destinasi Ekowisata Unggulan

Berita Terbaru