Kericuhan yang mewarnai pelaksanaan Musyawarah Kota (Mukota) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Tangerang Selatan menuai keprihatinan dari banyak kalangan. Budayawan sekaligus mantan pengurus Kadin Tangsel, Uten Sutendy, menilai insiden tersebut memalukan dan menyingkap adanya indikasi praktik tak sehat di balik proses pemilihan ketua organisasi pengusaha tersebut.
“Saya melihat ada modus. Calon ketua Kadin diminta bayaran mahal sampai ratusan juta rupiah, tapi pelaksanaan Mukota dilaksanakan asal-asalan, tidak tertib, dan jauh dari sikap profesional,” ungkap Uten dalam keterangan persnya, kemarin.
Menurutnya, peristiwa ricuh ini bukan kali pertama terjadi. Ia bahkan menyebut, praktik seperti itu sudah pernah terjadi sebelumnya saat dirinya masih aktif sebagai pengurus Kadin Tangsel. Karena itu, ia mendesak agar pihak-pihak yang merasa dirugikan segera melapor ke penegak hukum.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kecuali panitia berniat melanjutkan Mukota dalam waktu dekat dan memberi tahu seluruh peserta. Kalau tidak, ya harus diproses secara hukum,” tegasnya.
Uten menilai Tangsel sebagai kota modern semestinya menjadi contoh dalam tata kelola organisasi yang transparan dan profesional, bukan justru mencoreng citra dunia usaha.
“Tangsel ini sudah modern. Masa cara-cara barbar seperti ini masih terjadi? Sungguh memalukan. Siapapun yang menjadi sumber kekisruhan ini harus diusut dan dilaporkan ke pihak berwajib,” kata Uten dengan nada geram.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti penggunaan dana besar yang disetorkan oleh para calon ketua kepada panitia Mukota. Uten mempertanyakan transparansi penggunaan dana tersebut yang disebut-sebut mencapai angka fantastis.
Baca Juga:
PMII Ciputat Desak Pemkot Tangsel Terbuka soal Perpanjangan Jabatan Sekda
CGN Gelar “Open Day” Serentak di Lima Negara, Dorong Edukasi Energi Hijau dan Pertukaran Budaya
“Berapa sih sewa gedung dan konsumsi satu hari? Gak mungkin habis sampai satu miliar. Jadi kemana uang itu? Usut tuntas!” serunya.
Uten menegaskan, pelaksanaan Mukota sebenarnya dapat berjalan lancar bila panitia menjalankan tugasnya secara profesional dan terbuka.
“Asal peserta dilayani dengan baik, administrasi tertib, dan waktu pelaksanaan jelas, semua pasti berjalan lancar. Mukota ini kan sudah rutin digelar, mestinya bisa belajar dari pengalaman,” ujarnya.
Ia juga menyerukan agar para pengusaha Tangsel tidak diam dan berani bersuara ketika hak mereka dilanggar.
“Pengusaha Tangsel harus cerdas dan berani. Jangan cengeng dan takut di rumah sendiri. Kalau ada yang main-main dengan Mukota, harus dilawan,” tegasnya







