- HARIANBANTEN.COM – Rapat dengar pendapat (RDP) terkait kasus muntaber yang dialami 146 warga Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), diwarnai ketidakhadiran pihak pengembang perumahan dan perusahaan pengelola air.
Kedua pihak tersebut dipanggil DPRD Kota Tangsel melalui Komisi II untuk membahas keluhan warga mengenai kasus muntaber yang diduga berkaitan dengan kualitas air bersih. Namun, pengembang dan perusahaan pengelola air tersebut tidak menghadiri RDP yang digelar pada Rabu (14/10/2026).
Perwakilan warga, Arnis Silvia, mengatakan kasus muntaber mulai tercatat sejak 14 September 2026. Jumlah warga yang mengalami gejala serupa terus bertambah hingga mencapai 146 orang.
“14 September yang paling pertama, yang tercatat ya. Sebelum-sebelumnya yang Agustus juga ada kayak gitu, cuma kita kira kejadian biasa gitu. Tapi kan ini eskalasi dari 14 September sampai 9 Oktober saja itu kasus per harinya naik terus,” kata Arnis seusai mengikuti RDP, Rabu (14/10/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Arnis, awalnya warga mengira gangguan kesehatan tersebut merupakan kejadian biasa. Namun, setelah semakin banyak penghuni mengalami gejala serupa, warga mulai menelusuri kemungkinan penyebabnya.
Warga kemudian mencurigai pasokan air yang digunakan di rumah masing-masing karena penghuni memiliki lingkungan aktivitas, sekolah, serta sumber makanan dan minuman yang berbeda.
“Jadi kita mengeliminasi beberapa kemungkinan. Mereka sekolahnya beda, mereka tempat mainnya beda, catering-catering-nya juga beda, minum air kemasannya juga beda, akhirnya kita menduga keras bahwa ini adalah dari air yang dialirkan di rumah kami,” tuturnya.
Warga Keluhkan Air Keruh dan Berbau
Baca Juga:
Polisi : Ledakan Pasar Cimanggis Dari Gudang Penyimpanan Buah
Korban Ledakan Pasar Cimanggis Tangsel: 2 Meninggal Dunia, 11 Luka
Arnis mengungkapkan, warga juga mengeluhkan kondisi air yang dinilai tidak layak digunakan. Menurut dia, air yang mengalir dari keran disebut keruh dan mengeluarkan bau tidak sedap.
“(Kondisi air) keruh dan berbau. Jadi kalau kita pakai, hidupin keran air mau mandi gitu ya, kayak bau comberan. Terus kalau kita tampung di ember, enggak lama dia berlendir,” ujarnya.
Pasokan air di kawasan tersebut diketahui didistribusikan oleh PT Arfa Putra Soegama (APS).
Arnis mengatakan warga telah berulang kali menyampaikan keluhan melalui pengurus RT dan RW. Namun, menurut dia, perbaikan yang diharapkan belum terealisasi secara konkret.
Baca Juga:
Ledakan Keras di Pasar Cimanggis Ciputat, 7 Ruko Jebol dan Korban Berjatuhan
Terbukti! Air Bersih Serpong Lagoon Mengandung Bakteri E Coli
XTransfer Luncurkan Layanan Pembayaran Lintasnegara di Chili
“Kalau namanya komunikasi kita tuh sebagai warga rutin sekali komplain ya. Kita selalu komplain melalui RT atau RW kita, tapi ya mereka minta maaf berjanji memperbaiki, segitu aja, enggak pernah ada ini,” tegasnya.
DPRD Panggil Pengembang dan Pengelola Air
Dalam RDP tersebut, DPRD Kota Tangsel melalui Komisi II turut memanggil pihak pengembang perumahan dan perusahaan pengelola air untuk membahas persoalan yang dikeluhkan warga. Namun, keduanya tidak hadir dalam pertemuan tersebut.
Ketidakhadiran kedua pihak membuat warga berharap DPRD dan Pemerintah Kota Tangsel dapat mendorong penyelesaian konkret, terutama terkait pemeriksaan kualitas air dan perbaikan sistem distribusi apabila ditemukan masalah.
Warga juga menginginkan adanya penjelasan mengenai keluhan yang selama ini disampaikan kepada pengelola, sekaligus kepastian langkah penanganan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Hingga berita ini ditulis, alasan ketidakhadiran pihak pengembang dan PT APS dalam RDP belum diketahui. HarianBanten masih perlu meminta tanggapan kedua pihak terkait ketidakhadiran mereka maupun keluhan warga mengenai kualitas air di Perumahan Serpong Lagoon.
Baca Juga:
VT Markets Gandeng Island Sports Club, Padukan Dunia Trading dan Gaya Hidup Aktif
YR Fitness Bermitra dengan PrimaFit dan Berekspansi ke Indonesia
Eileen Gu Tampil sebagai Pembicara dalam KFF Inspiring Women Leadership Series di SMU
Sementara itu, dugaan keterkaitan antara pasokan air dan kasus muntaber masih memerlukan pembuktian melalui hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan epidemiologi.









