HARIANBANTEN.COM Seorang perempuan berusia 14 tahun asal Kelurahan Ciater, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), mengalami peristiwa tragis setelah diduga disekap selama sekitar lima hari oleh pria yang dikenalnya melalui media sosial.
Korban awalnya berkenalan dengan pria tersebut melalui media sosial. Keduanya kemudian sepakat bertemu hingga pria tersebut menjemput korban pada Rabu (16/9).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua RT 04 RW 07 Ciater, Arfian (38), mengatakan korban dan pria tersebut sempat menuju sebuah tandon di kawasan Ciater.
Namun, ketika korban meminta diantar pulang, pria tersebut justru membawa korban ke sebuah rumah di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Baca Juga:
50 Pemuda Buaran Dibekali Ilmu Bikin Konten Digital, Kominfo Tangsel: Jangan Asal Posting!
Bappisus Ajak Mahasiswa Ikut Awasi Program Pemerintah, Agar Tidak Dikorupsi
“Korban dan pelaku itu kenalnya dari medsos. Berawal kenal di medsos, lalu janjian yang kemudian dibawa kabur tanpa sepengetahuan orang tua,” kata Arfian kepada awak media, Rabu (23/9/2026).
Orang tua korban yang panik karena anaknya tidak kunjung pulang kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian.
Baca Juga:
JustMarkets: Bagaimana Trading Berbasis Browser Mengubah Akses ke Pasar CFD Global
Roborock Kembali Jadi Merek Robot Vacuum Nomor Satu Dunia pada Semester I-2026
Korban Dipulangkan, Pelaku Diamankan Warga
Setelah sekitar lima hari berada di rumah tersebut, korban akhirnya dibawa kembali oleh pria tersebut pada Senin (21/9) malam.
Namun, kepulangan korban justru diketahui warga. Pria yang diduga sebagai pelaku kemudian diamankan warga saat hendak mengantarkan korban.
Arfian mengatakan, pria tersebut diduga memutuskan memulangkan korban karena keberadaannya mulai dicurigai oleh warga sekitar.
“Kurang lebih itu dibawa kabur sekitar lima atau enam hari baru dibalikin, dan pas dibalikin itu ketahuan, ketangkap pas mau ngedrop,” ujarnya.
Diduga Alami Kekerasan Seksual
Selama berada di rumah tersebut, korban diduga mengalami kekerasan seksual secara berulang.
Berdasarkan keterangan yang diterima Arfian, korban juga mengaku mendapat ancaman pembunuhan ketika menolak keinginan pria tersebut atau berusaha meminta pertolongan.
“Dilecehkan secara seksual, yang bikin mirisnya lagi, ketika si korban datang bulan, tetap dihajar sama pelaku itu,” tutur Arfian.
Tak hanya itu, korban disebut mendapat ancaman agar tidak berteriak maupun meminta pertolongan.
“Sepengetahuan saya korban bilang iya diancam, kalau memang enggak mau melayani atau teriak, akan dibunuh atau dimacem-maceminlah, intinya ya pengancaman,” katanya.
Kini korban telah kembali ke rumah dan bersama keluarganya. Namun, peristiwa tersebut disebut meninggalkan trauma bagi korban.
Kasus tersebut selanjutnya ditangani aparat kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut.














