**HARIANBANTEN.COM** – Sebanyak 14 siswi kelas VIII SMP Negeri 10 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) diduga menjadi korban perundungan oleh kakak kelasnya. Para siswi tersebut disebut dipaksa meminum cairan racikan yang terdiri dari campuran kopi, saus, kecap, hingga bahan lainnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Peristiwa yang terjadi pada Jumat (9/10) malam itu diduga menyebabkan sejumlah korban mengalami sakit perut berkepanjangan. Bahkan, menurut keterangan salah satu orang tua korban, ada siswi yang dilaporkan mengalami muntah darah.
Salah seorang orang tua korban berinisial A (33) menceritakan, awalnya anak-anak tersebut diajak bermain oleh kakak kelasnya ke sebuah warung kopi (warkop). Namun, mereka diminta datang dalam jumlah banyak hingga akhirnya 14 siswi mendatangi lokasi tersebut.
Baca Juga:
Rano Alfath dan DPC PKB Tangsel Salurkan 10.000 Liter Air Bersih untuk Warga Buaran
Nekat Beraksi Pagi Hari, Seorang Pria Jambret Kalung Emak-emak di Pamulang
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
“Awalnya diajakin main, tapi tidak boleh hanya bawa dua atau tiga orang. Akhirnya bawalah jadi ada 14 orang,” kata A, Jumat (23/10/2026).
Setibanya di lokasi, para siswi disebut diminta mengikuti sebuah permainan sambil merokok. Dalam permainan tersebut, kakak kelas diduga menetapkan aturan bahwa abu rokok tidak boleh jatuh. Jika abu rokok jatuh, peserta harus meminum cairan racikan yang telah disiapkan.
Baca Juga:
DBS Group Raih Gelar Bank Teraman di Asia untuk ke-18 Tahun Berturut-turut
Sungrow Hadirkan Solusi Microgrid Terintegrasi untuk Sektor Komersial dan Industri di Asia Tenggara
“Jadi anak-anak korban ini disuruh ngerokok, tapi abu rokoknya itu enggak boleh jatuh. Kalau jatuh dia harus minum racikan,” tuturnya.
A mengatakan, para siswi saat itu tidak diberi tahu bahan-bahan yang digunakan untuk membuat cairan tersebut. Belakangan, menurut informasi yang diperolehnya, racikan itu terdiri dari kopi Liong, saus, kecap, lada bubuk, bawang putih, air ludah, air keran, dan cuka.
“Itu racikannya ada kopi Liong, saus, kecap, lada bubuk, bawang putih, air ludah, keran, sama cuka,” ungkapnya.
Baca Juga:
Debut Global All-New TIGGO7 dan TIGGOX7 di CHERY Brand Night, Usung Semangat “Together. For Family”
31.052 Meter Tanah di TPA Cipeucang Akan Dibebaskan, Pembayaran Ditargetkan Rampung Desember 2026
DPRD Tangsel Dorong Warga Serpong Lagoon Segera Tuntut Kompensasi Buntut Muntaber Massal
Akibat kejadian tersebut, A mengaku anaknya hingga Jumat (23/10/2026) belum kembali masuk sekolah karena masih kerap mengalami sakit perut. Ia juga mendapat informasi bahwa sejumlah korban lainnya mengalami keluhan kesehatan, termasuk dugaan muntah darah.
“Anak saya sampai hari ini tidak masuk sekolah karena masih sering sakit perut. Kalau teman-temannya yang lain ada yang sampai muntah darah,” terangnya.
Menurut A, dugaan perundungan tersebut melibatkan tiga siswi kakak kelas. Namun, para korban awalnya tidak berani menceritakan kejadian itu kepada orang tua masing-masing karena diduga mendapat ancaman dari para terduga pelaku.
“Anak-anak enggak ada yang berani ngomong karena diancam. Kalau sampai cerita ke orang tua, katanya bakal dikasih (dibully) lagi,” tuturnya.
A juga mengaku mengalami intimidasi ketika berusaha meminta klarifikasi secara baik-baik. Ia menyebut keluarga salah satu terduga pelaku sempat mendatanginya dan melontarkan ancaman.
“Saya sempat didatangi dan diancam sama keluarga terduga pelaku saat menanyakan kejelasannya. Tapi saya tegaskan, kalau mau diselesaikan, kita pakai jalur hukum,” pungkasnya.
### Pihak Sekolah Dalami Informasi
Sementara itu, Kepala SMPN 10 Tangsel, Kunardi, mengatakan pihaknya telah menerima informasi mengenai kejadian tersebut dari orang tua siswi pada Selasa (13/10/2026).
Setelah menerima laporan, pihak sekolah menugaskan tim untuk mendalami informasi dengan menggali keterangan pada Rabu hingga Kamis.
“Saya sudah dapat informasi dari orang tua hari Selasa, hari Rabu saya tugaskan tim untuk mendalami info itu, hari Rabu sampai dengan Kamis menggali informasi, Jumat pemanggilan orang tua,” kata Kunardi.
Kunardi menambahkan, pihak sekolah juga telah melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Tangsel untuk ditindaklanjuti.
“Hari Senin kemarin laporan sudah saya sampaikan ke Dindik via Pak Kabid SMP,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, informasi mengenai dugaan perundungan tersebut masih dalam pendalaman pihak sekolah. Konfirmasi lebih lanjut dari pihak terkait, termasuk Dindikbud Tangsel dan pihak keluarga siswi yang disebut terlibat, diperlukan untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai peristiwa tersebut.















