HARIANBANTEN.COM – 14 Siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 10 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang diduga mengalami perundungan kakak kelas akan mendapatkan pendampingan psikologis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Bidang Pendidikan Menengah pada Dindikbud Tangsel, Eka Andries mengatakan, pendampingan psikologis akan dilakukan oleh Bimbingan Konseling (BK).
“Kita itu tugasnya untuk melakukan pendampingan secara psikologis yang disebut namanya korban kan gitu ya, melalui bimbingan konseling,” kata Eka ketika dihubungi, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Baca Juga:
Dindikbud Tangsel Dalami Dugaan Perundungan 14 Siswi SMPN 10, Sekolah Masih Lakukan Investigasi
Tiang Beton di Jalan Serpong Roboh, Diduga Gegara Kabel Ketarik Truk
Rano Alfath dan DPC PKB Tangsel Salurkan 10.000 Liter Air Bersih untuk Warga Buaran
Sementara untuk terduga pelaku yang merupakan kakak kelas akan mendapatkan pembinaan seiring berjalannya proses pendalaman kejadian yang sedang dilakukan oleh pihak sekolah.
“Yang jelas tindakan yang dikeluarkan oleh SMPN 10 Itu ya melalui pembinaan,” tuturnya.
Baca Juga:
14 Siswi SMP di Tangsel Diduga Dibully Kakak Kelas, Dipaksa Minum Racikan Kopi Campur Saus
Nekat Beraksi Pagi Hari, Seorang Pria Jambret Kalung Emak-emak di Pamulang
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
Eka menjelaskan, peristiwa dugaan perundungan itu terjadi di luar lingkungan dan jam sekolah, yaitu tepatnya pada Jumat (9/10) malam di salah satu warung kopi (warkop).
Ia melanjutkan, pihak sekolah sendiri mendapatkan laporan dari salah satu orang tua korban pada Senin (12/10). Menindaklanjuti itu pada Selasa (13/10) sekolah memanggil orang tua serta siswi yang berada di lokasi kejadian.
“Sudah dilakukan (pemanggilan) oleh sekolah. Kan kejadiannya malam Sabtu, melapor kejadian hari Senin, hari Selasa itu pemanggilan,” tuturnya.
Baca Juga:
DBS Group Raih Gelar Bank Teraman di Asia untuk ke-18 Tahun Berturut-turut
Sungrow Hadirkan Solusi Microgrid Terintegrasi untuk Sektor Komersial dan Industri di Asia Tenggara
Saat itu pihak sekolah bertindak sebagai mediator terhadap kedua belah pihak untuk membahas dugaan perundungan tersebut.
Pihak sekolah, lanjut Eka, belum mengambil keputusan paska pertemuan itu karena masih harus melakukan pendalaman, apalagi dugaan peristiwa itu terjadi di luar lingkungan dan jam sekolah.
Namun untuk memastikan kondisi dan keselamatan para siswa, sekolah akan melakukan pendampingan psikologis dan pembinaan.









