HARIANBANTEN.COM – Komisi II DPRD Kota Tangerang Selatan (Tangsel) minta kepada pemerintah kota (pemkot) untuk menyiapkan langkah penanganan terhadap temuan 2.387 remaja di Tangsel yang mengalami gejala depresi.
Ketua Komisi II DPRD Tangsel, Ricky Yuanda mengatakan, sepengetahuannya pemkot Tangsel melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait sudah melakukan sosialisi ke masyarakat mengenai kondisi tersebut, hanya saja memang dinilai belum terlalu masif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tapi memang kalau melihat dari histori atau katakanlah kegiatan yang sudah dilakukan, memang belum banyak masif, karena memang komunitas-komunitas ini memang perlu juga kita sentuh,” kata Ricky ketika dikonfirmasi, Selasa, 1 September 2026.
Ricky minta Pemkot Tangsel perlu meningkatkan sosialisasi untuk mengantisipasi dampak dari gejala depresi yang dialami para remaja tersebut.
Baca Juga:
14 Siswi SMPN 10 Tangsel Korban Perundungan Akan Dapat Pendampingan Psikologis
Dindikbud Tangsel Dalami Dugaan Perundungan 14 Siswi SMPN 10, Sekolah Masih Lakukan Investigasi
Tiang Beton di Jalan Serpong Roboh, Diduga Gegara Kabel Ketarik Truk
Sosialisasi dilakukan tidak hanya di dalam sekolah, melainkan juga menyasar lingkungan masyarakat.
Pasalnya dari 2.387 remaja yang mengalami gejala depresi tersebut, lebih dari separuhnya bukan berstatus pelajar.
Baca Juga:
Rano Alfath dan DPC PKB Tangsel Salurkan 10.000 Liter Air Bersih untuk Warga Buaran
14 Siswi SMP di Tangsel Diduga Dibully Kakak Kelas, Dipaksa Minum Racikan Kopi Campur Saus
Nekat Beraksi Pagi Hari, Seorang Pria Jambret Kalung Emak-emak di Pamulang
“Maka solusinya menurut saya harus dilakukan screening kembali kepada komunitas-komunitas yang ada, bekerja sama dengan kelurahan, kecamatan, kemudian juga remaja-remaja Karang Taruna, remaja masjid dan seterusnya untuk bisa dilakukan screening dan kemudian pembinaan,” tuturnya.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu pun mengungkapkan, langkah penanganan harus segera diambil oleh Pemkot Tangsel. Ia khawatir gejala depresi itu bisa menjadi pemicu para remaja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
“Melalui temuan ini semoga menjadi trigger, menjadi pemantik akan adanya perhatian lebih serius lagi oleh pemerintah kepada remaja-remaja di Kota Tangerang Selatan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kita coba akan diskusi dengan dinas terkait untuk bicara mengenai solusi-solusi yang konkret, termasuk juga dengan data-data yang sudah ada, yang bisa kita jadikan acuan untuk melakukan tindakan lebih lanjut seperti apa,” ungkapnya.
Baca Juga:
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
DBS Group Raih Gelar Bank Teraman di Asia untuk ke-18 Tahun Berturut-turut
Sungrow Hadirkan Solusi Microgrid Terintegrasi untuk Sektor Komersial dan Industri di Asia Tenggara
“Nah ini tentu saja menjadi perhatian serius di kita, dari Komisi 2 DPRD Kota Tangerang Selatan untuk melakukan tindakan yang harus memang diperlukan bagi anak-anak dan remaja Kota Tangerang Selatan,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, berdasarkan hasil pemeriksaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) ditemukan adanya 2.387 remaja di Tangsel yang terdeteksi mengalami gejala depresi.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel, Alin Hendalin Mahdaniar menjelaskan, gejala depresi yang dialami remaja di Kota Tangsel diketahui dari hasil skrining.
Metode skrining dilakukan dengan memberikan sejumlah pertanyaan, dari hasil pertanyaan itu disimpulkan bahwa mereka mengalami gejala depresi.
Alin mengungkapkan, dari 2.387 remaja yang mengalami depresi ringan, 629 di antaranya merupakan masih berstatus pelajar.
“Ada 629 ya dari tingkat SMA yang dikategorikan depresi ringan. Jadi ini adalah sebenarnya sesuatu yang butuh kita lakukan edukasi,” ungkap Alin.
Menurutnya terdapat beberapa faktor yang menyebabkan para remaja di Kota Tangsel mengalami gejala depresi, beberapa di antaranya karena tekanan psikologis hingga kekhawatiran terhadap hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang.
“Jadi mereka ada hal-hal yang ketakutan akan masa depan, kemudian juga karena mungkin tekanan,” pungkasnya.












