HARIANBANTEN.COM- Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencapai 148.370 kasus sepanjang 2026 hingga pekan ke-35.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel mencatat, kasus ISPA bahkan kembali mengalami peningkatan dalam sepekan terakhir.
Kepala Dinkes Tangsel, Alin Hendalin Mahdaniar mengatakan, berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), kasus ISPA pada Minggu ke-35 mencapai 5.802 kasus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Angka tersebut meningkat 19,8 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat sebanyak 4.844 kasus.
“Kasus ISPA meningkat dari 4.844 kasus pada Minggu ke-34 menjadi 5.802 kasus pada Minggu ke-35 atau naik 19,8 persen,” kata Alin dalam keterangan tertulis, Rabu (9/9/2026).
Dengan demikian, secara kumulatif sejak Minggu ke-1 hingga Minggu ke-35 tahun 2026, jumlah kasus ISPA di Tangsel telah mencapai 148.370 kasus.
Wilayah dengan kasus tertinggi berada di Kecamatan Serpong sebanyak 38.366 kasus. Disusul Pamulang 27.293 kasus, Ciputat 26.895 kasus, Pondok Aren 22.170 kasus, Ciputat Timur 19.694 kasus, Setu 8.637 kasus dan Serpong Utara 5.315 kasus.
Baca Juga:
14 Siswi SMPN 10 Tangsel Korban Perundungan Akan Dapat Pendampingan Psikologis
Dindikbud Tangsel Dalami Dugaan Perundungan 14 Siswi SMPN 10, Sekolah Masih Lakukan Investigasi
Tiang Beton di Jalan Serpong Roboh, Diduga Gegara Kabel Ketarik Truk
“Data tersebut menjadi dasar pemantauan beban kasus dan penentuan wilayah yang memerlukan perhatian lebih lanjut,” ujar Alin.
Kenaikan kasus ISPA tersebut terjadi di tengah kondisi kualitas udara Tangsel yang turut menjadi perhatian menyusul paparan abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Namun, Dinkes Tangsel belum menyimpulkan bahwa peningkatan kasus ISPA tersebut secara langsung disebabkan oleh abu vulkanik.
“Namun peningkatan tersebut belum dapat disimpulkan secara langsung sebagai dampak paparan abu vulkanik, karena tren ISPA telah menunjukkan peningkatan sebelum kejadian dan dapat dipengaruhi faktor lain, termasuk perubahan cuaca dan kualitas udara,” tuturnya.
Baca Juga:
Rano Alfath dan DPC PKB Tangsel Salurkan 10.000 Liter Air Bersih untuk Warga Buaran
14 Siswi SMP di Tangsel Diduga Dibully Kakak Kelas, Dipaksa Minum Racikan Kopi Campur Saus
Nekat Beraksi Pagi Hari, Seorang Pria Jambret Kalung Emak-emak di Pamulang
Alin menjelaskan, paparan abu vulkanik sendiri berpotensi menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan, seperti iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, rasa berat di dada hingga sesak napas.
Paparan abu juga dapat memperburuk kondisi penderita asma, PPOK dan penyakit paru lainnya. Selain itu, abu vulkanik berpotensi menyebabkan iritasi mata dan gangguan kulit.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja luar ruangan, serta masyarakat dengan asma, PPOK, penyakit paru dan penyakit kronis lainnya menjadi perhatian khusus.
Dinkes Tangsel mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara berdebu. Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker serta melindungi mata dan kulit.
Masyarakat juga diminta menjaga sumber air dan makanan tetap tertutup serta tidak melakukan pembakaran sampah secara terbuka.
“Apabila mengalami batuk terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, mata merah atau nyeri, maupun keluhan yang semakin berat, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke Puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” pungkasnya.
Baca Juga:
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
DBS Group Raih Gelar Bank Teraman di Asia untuk ke-18 Tahun Berturut-turut
Sungrow Hadirkan Solusi Microgrid Terintegrasi untuk Sektor Komersial dan Industri di Asia Tenggara








