*JAKARTA* – Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut perlu diperkuat melalui pengelolaan tata air yang berkelanjutan. Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, Ahmad Fauzi, mendorong Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air untuk mereaktivasi kanal dan pintu air gambut sebagai langkah strategis mencegah kebakaran sejak dini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ahmad Fauzi menilai, penanganan karhutla selama ini masih menghadapi tantangan besar, terutama di kawasan gambut yang memiliki karakteristik kebakaran sulit dipadamkan secara menyeluruh. Menurutnya, upaya pemadaman perlu diimbangi dengan penguatan sistem pencegahan melalui pengendalian tinggi muka air tanah.
“Selama ini kita melakukan berbagai upaya pemadaman, tetapi kebakaran gambut tidak mudah dituntaskan secara menyeluruh. Karena itu, yang paling penting saat ini adalah memperkuat manajemen pencegahan melalui aktivasi kembali kanal dan pintu air di kawasan lahan gambut,” ujar Ahmad Fauzi.
Baca Juga:
XTransfer dan Bank of China (Hong Kong) Jalin Kerja Sama Strategis di Ajang Hong Kong FinTech Week
XTransfer dan Bank of China (Hong Kong) Jalin Kerja Sama Strategis di Ajang Hong Kong FinTech Week
140th Canton Fair: “Guochao” Hadir dengan Sentuhan Baru dalam Dunia Mode
Ia menyoroti fungsi kanal dan pintu air di sejumlah kawasan gambut yang sejak sekitar 2010 dinilai tidak lagi berjalan maksimal. Padahal, infrastruktur tersebut memiliki peran penting dalam mengendalikan aliran air dan menjaga kelembapan gambut, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Reaktivasi kanal dan pintu air, menurutnya, harus disertai pengaturan tinggi muka air tanah secara berkelanjutan. Pada musim hujan, pintu air dapat dioperasikan untuk mengendalikan kelebihan air, sedangkan menjelang musim kemarau pengelolaan air diperlukan agar gambut tidak mengalami kekeringan berlebihan.
Selain menghidupkan kembali infrastruktur tata air, Ahmad Fauzi juga mendorong penempatan petugas khusus di titik-titik strategis kanal dan pintu air untuk melakukan pengawasan, pemantauan tinggi muka air, serta memastikan sistem pengendalian air berfungsi optimal.
“Jangan hanya menunggu kebakaran terjadi, kemudian melakukan pemadaman. Kita harus memastikan gambut tetap basah dengan menjaga tinggi muka air tanah, mengoptimalkan fungsi pintu air, serta memperkuat pengawasan di lapangan, terutama menjelang musim kemarau,” tegasnya.
Ahmad Fauzi berharap Kementerian PU melalui Ditjen Sumber Daya Air dapat memperkuat langkah konkret dalam mengaktifkan kembali kanal dan pintu air gambut. Menurutnya, penguatan sistem tata air merupakan investasi penting dalam pencegahan karhutla, sekaligus menjaga ekosistem dan melindungi masyarakat dari ancaman kebakaran hutan dan lahan.








