HARIANBANTEN.COM – Kecamatan Serpong menjadi wilayah dengan jumlah anak yang memiliki permasalahan stunting terbanyak di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Kondisi tersebut membuat wilayah itu menjadi fokus intervensi penurunan stunting oleh Pemerintah Kota (Pemkot) bersama PT Telkom.
Walikota Tangsel, Benyamin Davnie mengatakan, intervensi akan menyasar anak usia di bawah tiga tahun (batita) yang mengalami permasalahan gizi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sekarang ini dipilih Kecamatan Serpong karena paling banyak data anak stunting se-Tangerang Selatan,” kata Benyamin, Senin, 10 Agustus 2026.
Menurutnya, intervensi dilakukan melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi sehingga pertumbuhan mereka dapat berlangsung secara optimal.
Baca Juga:
Wanita 21 Tahun Ditemukan Tewas di Kontrakan Tangerang, Ada Luka Pada Bagian Leher
Penyekap Lansia di Apartemen Serpong Ditangkap, Pelaku Ngaku Jadi Pegawai KPK
Driver Online Ditemukan Tewas di Dalam Mobil yang Terparkir di Serpong Tangsel
“Kalau dari sekarang tidak kita intervensi, makanannya paling tidak untuk supaya seimbang antara tinggi badan, umur, dengan berat badannya, ya itu harus kita intervensi dari sekarang,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel, Lilis Suryani, mengungkapkan terdapat 60 anak dengan permasalahan gizi yang akan mendapatkan intervensi.
Baca Juga:
Kementerian PU Akan Tata Wilayah Tangsel, Kemacetan Hingga Banjir Menjadi Sorotan
China Dental Show 2026 Hadirkan Inovasi Kedokteran Gigi yang Lebih Cerdas
LX Pantos Perkuat Komitmen ESG Global melalui Laporan Keberlanjutan 2026
Penanganan terhadap puluhan anak tersebut akan dilakukan melalui enam puskesmas yang berada di Kecamatan Serpong.
“Ada yang berat badan kurang, ada yang gizi kurang, dan ada yang tidak naik berat badannya,” ungkap Lilis.
Ia menjelaskan, pemberian PMT akan dilakukan selama 56 hari. Selama masa intervensi, perkembangan anak akan dipantau secara ketat oleh nutrisionis di masing-masing puskesmas.
Baca Juga:
Menu makanan yang diberikan, kata Lilis, memiliki komposisi lengkap yang terdiri dari karbohidrat, protein, sayuran, dan buah. Selain pemberian makanan, orang tua juga akan mendapatkan edukasi mengenai pemenuhan gizi anak.
“Jadi makanan dengan komposisi ada karbohidrat, ada protein, ada sayur, dan ada buah dan juga ada edukasi tentunya dari nutrisionis di masing-masing puskesmas,” tuturnya.
Untuk memastikan intervensi berjalan efektif, perkembangan setiap anak akan dipantau melalui aplikasi Stunting Hub.
Lilis mengatakan, setiap pemberian PMT akan didokumentasikan dan diunggah ke dalam aplikasi tersebut. Sebelum intervensi dimulai, anak akan terlebih dahulu menjalani pengukuran berat dan tinggi badan.
“Jadi nanti pemantauan pemberian PMT ini setiap hari difoto balitanya, di-upload ke dalam aplikasi itu. Kemudian nanti ada pengukuran sebelum diberikan PMT, nanti mereka diukur berat badannya, tinggi badannya, semuanya,” jelasnya.
Pemantauan kemudian dilakukan secara berkala untuk melihat perkembangan kondisi anak, termasuk perubahan berat badan setelah mendapatkan PMT selama masa intervensi.
“Nanti dimonitoring setiap bulan dan nanti di akhirnya juga nanti kita lihat ada tidak penambahan berat badan,” pungkasnya.












