HARIANBANTEN.COM – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Provinsi Banten melonjak lebih dari dua kali lipat setelah erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
Dalam kondisi normal, kasus ISPA di Banten berada di kisaran 2.000 kasus. Namun, berdasarkan laporan di lapangan, jumlahnya kini mencapai sekitar 4.500 kasus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lonjakan tersebut menjadi salah satu pertimbangan Pemerintah Provinsi Banten memperpanjang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh).
Gubernur Banten Andra Soni memutuskan PJJ diperpanjang hingga Jumat, 11 September 2026. Kebijakan ini diambil karena kualitas udara dinilai belum aman untuk kembali menggelar pembelajaran tatap muka akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Baca Juga:
APBD 2027 Tangsel Diproyeksikan Rp4,9 Triliun
Andra mengatakan Pemprov Banten masih terus memantau perkembangan aktivitas gunung serta pergerakan abu vulkanik.
“Kami terus melakukan pemantauan. Sampai saat ini gunung masih mengeluarkan abu hitam yang pergerakannya bergeser ke arah samudra. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada,” kata Andra.
Berdasarkan hasil peninjauan di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, aktivitas erupsi disebut mulai menurun. Meski demikian, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Siaga atau Level III sejak 2 Juli 2026.
Sementara itu, Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran, M. Nugraha Kartadinata, mengatakan erupsi masih berlangsung dengan tipe strombolian.
Aktivitas tersebut masih berpotensi melontarkan material vulkanik hingga lebih dari dua kilometer.
Baca Juga:
Kasus Dugaan Pelecehan Guru dan P3K Dindikbud Tangsel Berakhir Damai
Jurnalis Hilang Saat Liput Anak Krakatau, Hari Ketiga Pencarian Diperluas
“Selain abu vulkanik, erupsi ini juga melontarkan batuan. Karena itu, kami merekomendasikan agar tidak ada aktivitas warga dalam radius 3 kilometer. Kepada wisatawan atau siapa pun, saya imbau untuk tetap menjauh dari radius bahaya,” tegas Nugraha.
Pemprov Banten juga mengingatkan masyarakat untuk mengikuti rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), termasuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.










