Harian Banten– Sebanyak 165 santri dari berbagai pondok pesantren di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mendapat pengalaman berbeda. Mereka mengikuti Sekolah Legislator Santri yang digelar DPRD Tangsel sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025.
Program sehari penuh yang berlangsung di Gedung DPRD Tangsel ini mempertemukan para santri dengan langsung para wakil rakyat. Tujuannya, agar santri tidak hanya memahami politik dari teori, tetapi juga menyaksikan praktiknya di ruang parlemen.
Perwakilan Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) sekaligus Rabithah Ma’hid Islamiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (RMI-PCNU) Tangsel,Ustad Irfan, menyebut kegiatan ini sebagai momentum penting.
“Biasanya santri hanya belajar politik melalui kitab atau diskusi di pesantren. Melalui program ini, mereka bisa melihat langsung praktik politik dan legislasi dari anggota DPRD,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Materi Legislasi untuk Santri
Dalam Sekolah Legislator Santri, beberapa anggota DPRD Tangsel turun langsung menjadi pemateri. Badrusalam dari Fraksi Golkar memaparkan materi tentang etika politik santri, dari Fraksi PDIP Wanto Sugito memberikan materi Pembentukan Opini Publik dan Manajemen Aspirasi Masyarakat, sementara Ahmad Andi Wibowo (Gus Andi) dari Fraksi PKB memberikan materi tentang strategi komunikasi publik.
Materi terakhir sekaligus penutup acara dibawakan oleh Muthmainnah, anggota DPRD Tangsel dari Fraksi PKB. Ia mengisi sesi bertajuk “Teknik Sidang: Teori dan Praktik Persidangan Legislator”.
Dalam paparannya, Muthmainnah menegaskan pentingnya keterlibatan santri dalam dunia politik.
Baca Juga:
Pasrah Dilengserkan Dari Pimpinan DPRD Tangsel, Yusuf PKS: Kewenangan DPP
Usulkan Sri Mulyani Kembali ke Kemenkeu, PKN: Menteri Purbaya Lebih Cocok di Menkop atau Mensos
Siswa Tak Lolos SPMB Dapat Bantuan Rp1,8 Juta di 94 SMP Swasta Tangsel, Ini Daftar Sekolahnya
“Santri harus berani hadir di ruang-ruang pengambilan keputusan. Karena lewat forum persidangan itulah arah kebijakan publik ditentukan. Jika santri hanya menjadi penonton, maka nilai kejujuran, moralitas, dan akhlak akan tersisih dari politik,” tegasnya.
Menurutnya, bekal pesantren berupa disiplin, etika, dan semangat kebersamaan adalah modal kuat untuk melahirkan pemimpin yang berintegritas.
“Ilmu agama harus berjalan seiring dengan pemahaman tata aturan negara. Dari kombinasi itulah lahir politik yang beretika, berintegritas, dan berpihak pada rakyat,” lanjutnya.
Muthmainnah juga memberi dorongan motivasi bagi para santri. Beliau pun menyampaikan harapan besar agar santri-santri menjadi pemimpin yang mumpuni di masa depan.
Baca Juga:
Yusuf Dilengserkan Dari Pimpinan DPRD Tangsel, Mustopa Kembali Jadi Wakil Ketua
Perpanjangan Jabatan Sekda Digugat ke PTUN, Walikota Tangsel: Engga Masalah, Malah Bagus
“Santri bukan hanya penjaga moral, tetapi juga calon pemimpin bangsa. Dari pondok pesantren bisa lahir legislator, menteri, bahkan presiden. Semua itu bisa dicapai asalkan santri tidak meninggalkan akhlak dan jati dirinya. Sehingga menjadi pemimpin yang mumpuni di masa depan,” ucapnya, yang langsung mendapat tepuk tangan peserta.
Kick Off Hari Santri Nasional
Sekolah Legislator Santri menjadi kegiatan perdana yang difasilitasi DPRD Tangsel. Acara ini juga menandai kick off peringatan Hari Santri Nasional 2025 yang jatuh pada 22 Oktober mendatang.
Ustad Irfan menambahkan, kegiatan ini diharapkan dapat mencetak generasi santri yang sadar politik, kritis, dan tetap berpegang pada nilai pesantren.
“Santri tidak hanya harus menjadi ustaz, tetapi juga bisa berperan di berbagai profesi, termasuk politisi. Dengan memahami langsung praktik di parlemen, mereka semakin sadar bahwa politik adalah ruang pengabdian,” pungkasnya








