HARIANBANTEN.COM – Siang itu, Gedung DPRD Tangerang Selatan perlahan mulai lengang. Rapat paripurna telah usai. Satu per satu anggota dewan meninggalkan ruang sidang, sementara sejumlah wartawan bersiap mengabadikan pernyataan dari Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie.
Dengan langkah yang tampak biasa, Benyamin keluar dari ruang rapat. Wajahnya tenang. Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan sesuatu akan terjadi beberapa saat kemudian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seperti lazimnya selepas agenda resmi pemerintahan, ia menghampiri awak media yang telah menunggu. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Benyamin menjawab dengan santai, menjelaskan evaluasi program pemerintah daerah yang telah berjalan sepanjang tahun anggaran.
Kalimat-kalimatnya mengalir seperti arus sungai yang tenang. Hingga tiba-tiba, aliran itu terputus.
Baca Juga:
Operasi Berantas Jaya 2026: Polres Tangsel Tangkap 70 Tersangka Curanmor
Aly Taufik di Hadapan Fatayat NU Tangsel: PKB Punya Tugas Besar Membersamai NU
Sering Dilanda Kekeringan, Warga Keranggan Tangsel Minta Dibuatkan Sumur Bor
Di tengah penjelasan mengenai serapan program pemerintah, raut wajah Benyamin mendadak berubah. Tangannya refleks bergerak ke arah punggung sebelah kanan. Tubuhnya sedikit membungkuk, seolah sedang bernegosiasi dengan rasa nyeri yang datang tanpa undangan.
“Entar dulu, saya keram di sini,” ucapnya sambil memegang bagian punggung yang terasa sakit.
Baca Juga:
KLH Segel Pabrik Pengolahan Aluminium Ilegal di Kabupaten Tangerang
Tukar Pelat Nomor demi Curi Motor di PIK 2, RR Akhirnya Dibekuk Polisi
Suasana yang semula dipenuhi suara tanya-jawab seketika berubah. Beberapa wartawan menghentikan pertanyaan. Sejumlah pejabat dan anggota DPRD yang berada di sekitar lokasi langsung menoleh.
Dalam hitungan detik, perhatian yang tadinya tertuju pada angka-angka laporan kinerja pemerintah beralih pada kondisi sang wali kota.
Rasa sakit itu memang hanya datang sesaat, tetapi cukup membuat jalannya wawancara terhenti. Beberapa orang mendekat untuk memastikan kondisinya baik-baik saja. Di tengah kerumunan, Benyamin tampak berusaha menenangkan tubuhnya yang mendadak memberi sinyal kelelahan.
Baca Juga:
Febrie Adriansyah Tunjuk Hotman Paris Jadi Pengacaranya
Diduga Disegel Vendor, Belasan Ruang Kelas di Kampus Untirta Lumpuh
Pemandangan itu menjadi pengingat sederhana bahwa di balik jabatan, agenda yang padat, dan tumpukan tanggung jawab pemerintahan, seorang kepala daerah tetaplah manusia biasa yang memiliki batas daya tahan fisik.
Tak lama kemudian, setelah kondisinya membaik, Benyamin kembali melanjutkan langkahnya. Ia menuruni tangga Gedung DPRD Tangsel menuju pintu keluar.
Sebelum insiden itu terjadi, Benyamin sempat menjelaskan bahwa sejumlah program pemerintah daerah memang masih memerlukan evaluasi. Menurutnya, tidak seluruh kegiatan dapat terserap secara sempurna meski realisasinya tergolong tinggi.
“Tetapi memang seluruh program kegiatan itu tidak seluruhnya terserap 100 persen. Intinya pada beberapa kegiatan total secara keseluruhan itu 90 sampai 93 persen,” ujarnya.
Ketika ditanya lebih jauh mengenai rincian teknis serapan anggaran, Benyamin mempersilakan awak media untuk meminta penjelasan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
“Teknisnya nanti detail teknisnya silakan tanya kepada TAPD deh ya. Saya nggak hafal satu per satu,” pungkasnya.
Siang itu, rapat paripurna memang telah selesai. Namun sebelum meninggalkan gedung dewan, Benyamin menyisakan satu momen yang tak tercatat dalam agenda resmi: saat tubuhnya sejenak menghentikan laju rutinitas, dan rasa nyeri mengambil alih panggung perhatian.












