HARIANBANTEN.COM – Kecamatan Serpong menjadi wilayah dengan jumlah anak yang memiliki permasalahan stunting terbanyak di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Kondisi tersebut membuat wilayah itu menjadi fokus intervensi penurunan stunting oleh Pemerintah Kota (Pemkot) bersama PT Telkom.
Walikota Tangsel, Benyamin Davnie mengatakan, intervensi akan menyasar anak usia di bawah tiga tahun (batita) yang mengalami permasalahan gizi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sekarang ini dipilih Kecamatan Serpong karena paling banyak data anak stunting se-Tangerang Selatan,” kata Benyamin, Senin, 10 Agustus 2026.
Menurutnya, intervensi dilakukan melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi sehingga pertumbuhan mereka dapat berlangsung secara optimal.
Baca Juga:
Dari Kertas Xuan hingga Desa Xidi, Rombongan Diplomat Menjelajahi Warisan Budaya Anhui
Changhong Gandeng Ikon Pop Indonesia Rossa untuk Memperkuat Jangkauan di Pasar Indonesia
Coolita Luncurkan FAST Media Alliance Pertama di Indonesia Bersama Sejumlah Stasiun TV Terkemuka
“Kalau dari sekarang tidak kita intervensi, makanannya paling tidak untuk supaya seimbang antara tinggi badan, umur, dengan berat badannya, ya itu harus kita intervensi dari sekarang,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel, Lilis Suryani, mengungkapkan terdapat 60 anak dengan permasalahan gizi yang akan mendapatkan intervensi.
Baca Juga:
Lansia Disekap di Apartemen Serpong, Mobil Hingga Handphone Digasak Pelaku
Himel Hadirkan Visi Hunian Modern melalui Kampanye Global “Dream Home”
Penanganan terhadap puluhan anak tersebut akan dilakukan melalui enam puskesmas yang berada di Kecamatan Serpong.
“Ada yang berat badan kurang, ada yang gizi kurang, dan ada yang tidak naik berat badannya,” ungkap Lilis.
Ia menjelaskan, pemberian PMT akan dilakukan selama 56 hari. Selama masa intervensi, perkembangan anak akan dipantau secara ketat oleh nutrisionis di masing-masing puskesmas.
Baca Juga:
FAMILIARITÉ: Ketika Sinema dan Sastra Bertemu dalam Sebuah Karya Puitis
Penderita ISPA di Tangsel Meningkat Selama Musim Kemarau 2026
Target Juli Meleset, Pembebasan Lahan TPA Cipeucang Kini Ditargetkan Rampung Desember 2026
Menu makanan yang diberikan, kata Lilis, memiliki komposisi lengkap yang terdiri dari karbohidrat, protein, sayuran, dan buah. Selain pemberian makanan, orang tua juga akan mendapatkan edukasi mengenai pemenuhan gizi anak.
“Jadi makanan dengan komposisi ada karbohidrat, ada protein, ada sayur, dan ada buah dan juga ada edukasi tentunya dari nutrisionis di masing-masing puskesmas,” tuturnya.
Untuk memastikan intervensi berjalan efektif, perkembangan setiap anak akan dipantau melalui aplikasi Stunting Hub.
Lilis mengatakan, setiap pemberian PMT akan didokumentasikan dan diunggah ke dalam aplikasi tersebut. Sebelum intervensi dimulai, anak akan terlebih dahulu menjalani pengukuran berat dan tinggi badan.
“Jadi nanti pemantauan pemberian PMT ini setiap hari difoto balitanya, di-upload ke dalam aplikasi itu. Kemudian nanti ada pengukuran sebelum diberikan PMT, nanti mereka diukur berat badannya, tinggi badannya, semuanya,” jelasnya.
Pemantauan kemudian dilakukan secara berkala untuk melihat perkembangan kondisi anak, termasuk perubahan berat badan setelah mendapatkan PMT selama masa intervensi.
“Nanti dimonitoring setiap bulan dan nanti di akhirnya juga nanti kita lihat ada tidak penambahan berat badan,” pungkasnya.












