HARIANBANTEN.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengungkapkan seluruh wilayah kota masuk dalam peta potensi bahaya kekeringan. Berdasarkan Kajian Risiko Bencana, wilayah yang dipetakan mencapai 16.485,47 hektare, atau setara dengan luas administratif Kota Tangsel.
Sekretaris BPBD Kota Tangsel, Essa Nugraha, mengatakan pemetaan tersebut merupakan hasil analisis potensi bahaya kekeringan di seluruh kecamatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Potensi risiko di berbagai kecamatan dan berapa hektarnya itu sudah kita analisis,” kata Essa saat dikonfirmasi, Jumat (10/7/2026).
Berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana, sebagian besar wilayah Tangsel berada pada kategori bahaya kekeringan rendah dengan luas 16.053,38 hektare. Sementara itu, Kecamatan Setu menjadi satu-satunya wilayah yang memiliki area dengan kategori bahaya sedang, yakni seluas 432,09 hektare. Tidak ada wilayah yang masuk kategori bahaya tinggi.
Baca Juga:
Antisipasi Abu Vulkanik Kembali Menyebar, 3 Ruas Jalan Protokol di Tangsel Disemprot Air
Dokumen tersebut menyebutkan bahwa secara keseluruhan Kota Tangerang Selatan berada pada kelas bahaya kekeringan sedang, yang ditentukan berdasarkan histori kejadian kekeringan serta intensitas curah hujan.
“Tingkat potensi bahaya bencana kekeringan di Kota Tangerang Selatan memiliki kelas bahaya kekeringan sedang dengan luas total yang terkena bahaya kekeringan yaitu 16.485,47 hektare,” demikian bunyi dokumen hasil analisis BPBD tahun 2023.
Baca Juga:
LX Pantos Rampungkan Proyek Logistik Pertahanan Kompleks untuk Persenjataan Canggih
Dua Klenteng di Tangerang Berseteru soal Tanah, Boen Tek Bio Menang di PTUN
Sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau, BPBD telah menyiapkan dua unit mobil tangki air bersih untuk mendistribusikan bantuan kepada warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air.
“Kita ada dua unit yang tersedia. Satu punya Dinas Cipta Karya, lalu kemudian yang kedua punya Dinas Lingkungan Hidup,” ujar Essa.
Menurutnya, pendistribusian air bersih akan dilakukan melalui toren penampungan yang telah disiapkan di wilayah terdampak. Warga dapat mengambil air bersih dengan membawa wadah masing-masing.
Baca Juga:
Abu Vulkanik Masih Selimuti Tangsel, Pemkot Buka Peluang Perpanjang PJJ
Produk Unggulan Pegunungan Guizhou Tampil di Festival Panen Shanghai
BPBD juga mengimbau masyarakat segera melapor kepada aparat lingkungan apabila sumber air di rumah mulai mengering agar penyaluran bantuan dapat dilakukan lebih cepat.
“Insyaallah lah kita pasukan sudah siap, kemudian fasilitas juga ada, dan air bersih juga alhamdulillah kita akan dapatkan. Tinggal bagaimana supaya respons lebih cepat,” katanya.
Sebelumnya, kekeringan mulai dilaporkan terjadi di RT 02 RW 01 Kampung Koceak, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Setu. Sebanyak 20 kepala keluarga (KK) mengalami kesulitan memperoleh air bersih karena air sumur berubah keruh dan debitnya terus menurun.
Kondisi tersebut mengganggu aktivitas warga, mulai dari memasak, mencuci hingga memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.











