HARIANBANTEN.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengungkapkan seluruh wilayah kota masuk dalam peta potensi bahaya kekeringan. Berdasarkan Kajian Risiko Bencana, wilayah yang dipetakan mencapai 16.485,47 hektare, atau setara dengan luas administratif Kota Tangsel.
Sekretaris BPBD Kota Tangsel, Essa Nugraha, mengatakan pemetaan tersebut merupakan hasil analisis potensi bahaya kekeringan di seluruh kecamatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Potensi risiko di berbagai kecamatan dan berapa hektarnya itu sudah kita analisis,” kata Essa saat dikonfirmasi, Jumat (10/7/2026).
Berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana, sebagian besar wilayah Tangsel berada pada kategori bahaya kekeringan rendah dengan luas 16.053,38 hektare. Sementara itu, Kecamatan Setu menjadi satu-satunya wilayah yang memiliki area dengan kategori bahaya sedang, yakni seluas 432,09 hektare. Tidak ada wilayah yang masuk kategori bahaya tinggi.
Baca Juga:
14 Siswi SMPN 10 Tangsel Korban Perundungan Akan Dapat Pendampingan Psikologis
Dindikbud Tangsel Dalami Dugaan Perundungan 14 Siswi SMPN 10, Sekolah Masih Lakukan Investigasi
Tiang Beton di Jalan Serpong Roboh, Diduga Gegara Kabel Ketarik Truk
Dokumen tersebut menyebutkan bahwa secara keseluruhan Kota Tangerang Selatan berada pada kelas bahaya kekeringan sedang, yang ditentukan berdasarkan histori kejadian kekeringan serta intensitas curah hujan.
“Tingkat potensi bahaya bencana kekeringan di Kota Tangerang Selatan memiliki kelas bahaya kekeringan sedang dengan luas total yang terkena bahaya kekeringan yaitu 16.485,47 hektare,” demikian bunyi dokumen hasil analisis BPBD tahun 2023.
Baca Juga:
Rano Alfath dan DPC PKB Tangsel Salurkan 10.000 Liter Air Bersih untuk Warga Buaran
14 Siswi SMP di Tangsel Diduga Dibully Kakak Kelas, Dipaksa Minum Racikan Kopi Campur Saus
Nekat Beraksi Pagi Hari, Seorang Pria Jambret Kalung Emak-emak di Pamulang
Sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau, BPBD telah menyiapkan dua unit mobil tangki air bersih untuk mendistribusikan bantuan kepada warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air.
“Kita ada dua unit yang tersedia. Satu punya Dinas Cipta Karya, lalu kemudian yang kedua punya Dinas Lingkungan Hidup,” ujar Essa.
Menurutnya, pendistribusian air bersih akan dilakukan melalui toren penampungan yang telah disiapkan di wilayah terdampak. Warga dapat mengambil air bersih dengan membawa wadah masing-masing.
Baca Juga:
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
DBS Group Raih Gelar Bank Teraman di Asia untuk ke-18 Tahun Berturut-turut
Sungrow Hadirkan Solusi Microgrid Terintegrasi untuk Sektor Komersial dan Industri di Asia Tenggara
BPBD juga mengimbau masyarakat segera melapor kepada aparat lingkungan apabila sumber air di rumah mulai mengering agar penyaluran bantuan dapat dilakukan lebih cepat.
“Insyaallah lah kita pasukan sudah siap, kemudian fasilitas juga ada, dan air bersih juga alhamdulillah kita akan dapatkan. Tinggal bagaimana supaya respons lebih cepat,” katanya.
Sebelumnya, kekeringan mulai dilaporkan terjadi di RT 02 RW 01 Kampung Koceak, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Setu. Sebanyak 20 kepala keluarga (KK) mengalami kesulitan memperoleh air bersih karena air sumur berubah keruh dan debitnya terus menurun.
Kondisi tersebut mengganggu aktivitas warga, mulai dari memasak, mencuci hingga memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.










