HARIANBANTEN – Krisis sampah di Kota Tangerang Selatan kian nyata. Setelah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang ditutup sejak 8 Desember 2025, Pemkot Tangsel terpaksa mengambil langkah darurat dengan membuang sampah ke luar daerah. Selama masa tanggap darurat, sampah Tangsel dialihkan ke fasilitas pengolahan PT Aspex Kumbong di Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Dikutip dari Kabar6.com, kuota pembuangan sampah yang dikirim mencapai 200 ton per hari. Dengan biaya pengelolaan atau tipping fee sebesar Rp450 ribu per ton, Pemkot Tangsel harus merogoh anggaran hingga Rp90 juta setiap hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, membenarkan besaran biaya tersebut. Ia menegaskan, kebijakan membuang sampah ke Cileungsi merupakan solusi jangka pendek agar sampah tidak menumpuk di jalanan, ruang publik, dan permukiman warga.
“Rp450 ribu per ton. Jadi kalau 200 ton per hari, sekitar Rp90 juta,” ujar Pilar Saga Ichsan usai rapat koordinasi di Pusat Pemerintahan Kota Tangsel, Jumat (9/1/2026), dikutip dari Kabar6.com.
Baca Juga:
ICM Nonaktifkan Guru yang Dilaporkan ke Polisi Atas Dugaan Pelecehan ke Siswinya
Walikota Tangsel Minta Kasus Dugaan Pelecehan Sekolah Internasional Diselesaikan Secara Hukum
Pilar juga menyampaikan bahwa langkah darurat tersebut telah diketahui dan mendapat dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Meski demikian, ia menegaskan pengiriman sampah ke luar daerah tidak bisa dilakukan terus-menerus.
“KLH tahu dan mendukung. Tapi ini solusi sementara supaya sampah tidak menumpuk,” katanya.
Baca Juga:
Dugaan Pelecehan Sekolah Internasional di Tangsel, Polisi Periksa Sejumlah Saksi
Andra Soni Sambangi Keluarga Jurnalis yang Hilang, Pencarian Diperluas hingga Bengkulu
The Coffee Bean & Tea Leaf® dan Al-Ghunaim Rayakan Pembukaan Kafe Ke-130 di Kuwait
Menurut Pilar, Pemkot Tangsel tengah menyiapkan solusi jangka panjang, termasuk pembangunan fasilitas mesin pencacah sampah di TPA Cipeucang. Namun rencana itu membutuhkan lahan seluas 5.000 meter persegi serta proses pembebasan lahan dan komunikasi dengan masyarakat sekitar.
Selain itu, rencana proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Cipeucang juga memerlukan lahan sekitar 5 hektare, sehingga tidak bisa direalisasikan dalam waktu singkat.
Sementara solusi permanen belum terwujud, persoalan sampah di Tangsel masih menjadi sorotan. Gunungan dan ceceran sampah dilaporkan masih terlihat di sejumlah ruas jalan dan kawasan permukiman, membuat kebijakan pembuangan sampah ke Cileungsi menjadi pilihan paling realistis dalam kondisi darurat saat ini.
(Sumber: Kabar6.com)









