Rupiah Jebol Rp 17.300! Harga Minyak Dunia Jadi Tersangka Utama

- Pewarta

Kamis, 23 April 2026 - 22:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HARIAN BANTEN – Nilai tukar rupiah kembali terpukul di tengah gejolak global. Lonjakan harga minyak dunia disebut menjadi pemicu utama yang membuat mata uang Garuda menembus batas psikologis baru.

Berdasarkan data Trading Economics, pada Kamis (23/4/2026) pukul 10.40 WIB, rupiah berada di level Rp 17.295 per dolar AS setelah sempat menyentuh Rp 17.300 pada pukul 09.00. Tekanan terhadap rupiah dinilai tidak lepas dari melonjaknya harga minyak dunia yang kini memberi dampak luas, mulai dari sektor energi hingga stabilitas fiskal nasional.

Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa harga minyak global yang melampaui asumsi APBN 2026 mempercepat pelemahan rupiah.
“Nah dari segi internal sendiri dengan kenaikan harga minyak Brent crude oil saat ini sudah di USD 103, kemudian WTI crude oil itu di USD 98 per barrel ini membuat anggaran, defisit anggaran Indonesia kemungkinan besar akan kembali melebar,” kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Kamis (23/4/2026).

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menambahkan bahwa lonjakan harga minyak tersebut sudah jauh melewati batas asumsi pemerintah dalam APBN.
“Kita tahu bahwa di APBN tahun 2026 harga minyak itu dipatok di USD 70 per barel. Batas akhir ya batas maksimal itu adalah USD 92. Artinya, saat ini sudah di atas USD 92 per barrel ini membuat rupiah ini mengalami kelemahan yang cukup signifikan,” ujarnya.

Tekanan juga datang dari tingginya kebutuhan impor minyak Indonesia yang belum mampu dipenuhi produksi dalam negeri.
“Karena kita melihat bahwa kebutuhan impor minyak dunia Indonesia itu adalah 1,5 juta barrel per hari. Dan kita harus tahu kebutuhan minyak mentah di Indonesia dalam satu hari itu adalah 2,1 juta barrel per hari. Sehingga pemerintah harus menyiapkan anggaran yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan minyak tersebut,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan energi karena harga BBM subsidi tidak dinaikkan.
“Sehingga pemerintah harus mencari anggaran-anggaran dari departemen lain untuk membantu subsidi terhadap Pertalite. Nah ini yang bisa membuat defisit anggaran kembali lagi mengalami pelebaran,” pungkasnya.

Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya rupiah terhadap gejolak global, terutama energi. Tanpa langkah strategis yang tepat, tekanan serupa bisa terus membayangi perekonomian nasional ke depan.

Berita Terkait

Lancia Consult Raih Great Place To Work® Certification™ di Empat Negara
“Toy Story | PEACEMINUSONE: THE FIRST FAN” Hadir di Harbour City sebagai Persinggahan Keempat dalam Tur Globalnya
COMAU RAIH “OUTSTANDING PARTNER AWARD”, HORSE POWERTRAIN PRODUKSI TIGA JUTA UNIT TRANSMISI
COMAU RAIH “OUTSTANDING PARTNER AWARD”, HORSE POWERTRAIN PRODUKSI TIGA JUTA UNIT TRANSMISI
Aliran Air Kosambi Barat Kembali Normal, PERUMDAM TKR Pastikan Pelayanan Terus Dipantau
Savaya Group Hadirkan Zumana, Destinasi Baru di Pesisir Kuta Bali
Trinasolar Dukung Proyek PLTS dan Penyimpanan Energi 10 MWh di Phu Quoc, Vietnam
Prodigy Technovations Hadirkan Exerciser dan Analyzer Protokol UFS 5.0 Pertama di Industri untuk Mendorong Era Penyimpanan Berbasis AI

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 08:41 WIB

Lancia Consult Raih Great Place To Work® Certification™ di Empat Negara

Kamis, 20 Agustus 2026 - 03:09 WIB

“Toy Story | PEACEMINUSONE: THE FIRST FAN” Hadir di Harbour City sebagai Persinggahan Keempat dalam Tur Globalnya

Kamis, 20 Agustus 2026 - 01:34 WIB

COMAU RAIH “OUTSTANDING PARTNER AWARD”, HORSE POWERTRAIN PRODUKSI TIGA JUTA UNIT TRANSMISI

Rabu, 19 Agustus 2026 - 21:49 WIB

Aliran Air Kosambi Barat Kembali Normal, PERUMDAM TKR Pastikan Pelayanan Terus Dipantau

Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:12 WIB

Savaya Group Hadirkan Zumana, Destinasi Baru di Pesisir Kuta Bali

Berita Terbaru