HARIANBANTEN.COM – Pemerintah Provinsi Banten mulai mengevaluasi sejumlah jurusan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dinilai sudah jenuh dan minim serapan kerja. Jurusan seperti sekretaris, ketatausahaan, akuntansi hingga Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) disebut menjadi penyumbang angka pengangguran di Banten.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Jamaluddin, mengatakan lulusan dari beberapa jurusan tersebut saat ini terlalu banyak, sementara kebutuhan dunia kerja tidak lagi sebanding.
“Jurusan-jurusan yang jenuh itu seperti sekretaris, ketatausahaan, termasuk akuntansi dan TKJ. Itu sekarang sudah terlalu banyak dan jadi penyumbang pengangguran,” ujar Jamaluddin kepada wartawan, Jumat (8/5/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena itu, Pemprov Banten berencana mengurangi bahkan menghapus jurusan yang dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri. Nantinya, jurusan tersebut akan diganti dengan program pendidikan yang memiliki peluang kerja lebih besar.
“Nanti jurusan-jurusan jenuh itu akan kita evaluasi, kita kurangi, bahkan bisa kita hilangkan. Kita ganti dengan jurusan yang lebih produktif,” katanya.
Saat ini, Pemprov Banten mulai mendorong pengembangan jurusan berbasis keterampilan teknis. Salah satu bidang yang disebut memiliki kebutuhan tenaga kerja tinggi adalah pengelasan atau welding.
Menurut Jamaluddin, kebutuhan tenaga kerja pengelasan tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri dengan nilai penghasilan yang cukup besar.
Baca Juga:
Pria Gali Makam Ibu Kandung Di Sengkol Dicari Polisi, Ini Penyebabnya
Benyamin Putuskan Perpanjang Bambang Noertjahjo Sebagai Sekda Tangsel
“Ada kebutuhan ratusan ribu tenaga kerja untuk bidang pengelasan. Bahkan ada pengelasan kapal sampai pengelasan bawah air yang gajinya bisa mencapai Rp20 juta sampai Rp30 juta di Jepang,” ungkapnya.
Selain pengelasan, sektor kuliner juga dinilai masih memiliki prospek kerja yang luas karena terus berkembang dan membutuhkan tenaga kerja terampil.
Pemprov Banten juga melihat peluang besar di kawasan industri Cilegon. Industri kimia dan manufaktur berat di wilayah tersebut disebut membutuhkan lulusan SMK dengan kemampuan teknis tertentu.
“Perusahaan-perusahaan di Cilegon saat ini membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan teknis, terutama yang berkaitan dengan industri kimia dan manufaktur berat. Jadi banyak kebutuhan akan tenaga kerja teknis itu yang sekarang sedang kita dorong,” kata Jamaluddin.








