HARIANBANTEN.COM – Sebanyak 879 balita di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengalami stunting. Hal itu diketahui berdasarkan hasil pengukuran pada bulan Agustus 2026 ini.
Wakil Walikota Tangsel, Pilar Saga Ichsan mengatakan, ratusan anak yang mengalami stunting tersebar di 54 kelurahan yang ada di Kota Tangsel.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Angka terakhir 879 anak. Memang dari jumlah total anak kita itu masih di bawah 1 perawn dari 7 kecamatan 54 kelurahan,” kata Pilar seusai acara Publikasi Stunting di Puspemkot Tangsel, Rabu, 16 September 2026.
Ia mengungkapkan, hasil pengukuran itu selanjutnya akan menjadi acuan Pemkot Tangsel dalam melakukan penanganan stunting di Kota Tangsel.
Baca Juga:
Kecamatan Setu Jadi Wilayah Balita Stunting Tertinggi di Kota Tangsel
Polemik Pool Taksi Ciater, Wakil Walikota Tangsel Minta Perusahaan Segera Urus PBG
“Kita sebarkan data itu ke kewilayahan, khususnya ke kecamatan untuk diberikan langkah-langkah strategis tindak lanjut supaya permasalahan stunting itu bisa teratasi,” ungkapnya.
Pilar menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan para balita tersebut mengalami stunting, mulai dari asupan gizi, lingkungan yang tidak memadai, hingga pola asuh orang tua.
Baca Juga:
Huawei Bahas Konektivitas Cerdas dan Transformasi AI di Ajang M360 ASEAN 2026
RAVEN2 BUKA FRESH START SERVER “ZERO” DENGAN HADIAH “FESTIVAL LEGENDARY”
Oleh karena itu penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak saja, melainkan harus dikakukan secara komprehensif dari hulu ke hilir dengan kolaborasi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Baik itu untuk pencegahan preventif, promotif, maupun yang saat ini dalam kondisi stunting untuk dilakukan pemulihan, perbaikan gizinya, perbaikan kualitas hidup dan lain sebagainya,” terangnya.
Pilar menyebut, meski masih terdapat ratusan balita di Kota Tangsel yang mengalami stunting, namun jika dibandingkan dengan wilayah lain angka itu masih terbilang kecil.
Baca Juga:
Tak Sesuai Kondisi Ekonomi, 791 Warga Tangsel Ajukan Perubahan Desil
CATL Luncurkan TECTRANS II di Ajang IAA Transportation 2026, Percepat Elektrifikasi Kendaraan Niaga
Namun berapa pun jumlahnya, lanjut Pilar, kondisi itu tetap harus menjadi perhatian pemerintah agar balita stunting dapat terus ditekan.
“Tahun sekarang turun dibanding tahun lalu. Tahun lalu 0,79 persen sekitar 900-an ya. Ya sekarang berarti 0,75 persen sekitar 800-an. Tapi saya bilang tadi, mau itu 1 persen, mau itu 0,75 persen, itu harus ditangani. Jadi masyarakat kita yang tinggal di Tangsel ya kalau bisa ya ke depan jadi nol persen,” tegasnya.
“Walaupun Tangsel itu termasuk yang terendah di Indonesia, di Banten, tapi PR kitalah. PR kita kerja keras bersama-sama, kita juga menggandeng unsur swasta juga supaya bisa sama-sama punya awareness ya terhadap kondisi sumber daya manusia kita khususnya anak-anak kita sebagai generasi ke depan,” pungkasnya.










