Emas 30.000 Ton Ditemukan di Banten, Kekayaannya Lama Dikuasai Pihak Asing

- Pewarta

Senin, 15 Juni 2026 - 12:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HARIANBANTEN.COM Emas masih menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak diburu karena dinilai mampu menjaga nilai aset dalam jangka panjang. Logam mulia ini juga kerap menjadi pilihan utama saat kondisi ekonomi dan geopolitik global dilanda ketidakpastian.

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap emas, sejarah Indonesia menyimpan kisah penemuan cadangan emas raksasa yang pernah menghebohkan. Lokasinya berada di Cikotok, Banten, yang pada masa kolonial disebut menyimpan puluhan ribu ton emas di dalam perut bumi.

 

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penemuan tersebut bukan hanya menjadi kabar besar pada zamannya, tetapi juga menandai lahirnya industri pertambangan emas modern di Indonesia. Namun ironisnya, kekayaan alam itu justru lebih banyak dinikmati pemerintah kolonial dibanding masyarakat pribumi.

 

Awalnya, sudah sejak lama pemerintah kolonial mendengar desas-desus tentang wilayah sumber emas diselatan Batavia (Kini Jakarta)administrasi Banten.Jika dihitung,Cikotokncukup dekat dari pusat kota Batavia.Hanya 200Km

Foto: Emas batangan. (AP Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia – Emas masih menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak diburu karena dinilai mampu menjaga nilai aset dalam jangka panjang. Logam mulia ini juga kerap menjadi pilihan utama saat kondisi ekonomi dan geopolitik global dilanda ketidakpastian.

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap emas, sejarah Indonesia menyimpan kisah penemuan cadangan emas raksasa yang pernah menghebohkan. Lokasinya berada di Cikotok, Banten, yang pada masa kolonial disebut menyimpan puluhan ribu ton emas di dalam perut bumi.

 

Penemuan tersebut bukan hanya menjadi kabar besar pada zamannya, tetapi juga menandai lahirnya industri pertambangan emas modern di Indonesia. Namun ironisnya, kekayaan alam itu justru lebih banyak dinikmati pemerintah kolonial dibanding masyarakat pribumi.

 

Awalnya, sudah sejak lama pemerintah kolonial mendengar desas-desus tentang wilayah sumber emas di Selatan Batavia (kini Jakarta) bernama Cikotok yang berada di wilayah administrasi Banten. Jika dihitung, Cikotok cukup dekat dari pusat kota Batavia. Hanya 200 Km.

 

Pilihan Redaksi

Kabar ini jelas membuat orang terbelalak sebab akan sangat menguntungkan. Maka, agar tidak dianggap khayalan, pemerintah melakukan penelitian geologi yang dipimpin peneliti Belanda, W.F.F Oppenoorth.

 

Sejak 1919, Oppenoorth dan tim berangkat dari Sukabumi untuk menyusuri hutan Jawa hingga ke titik yang dianggap sumber emas. Penyusuran juga dibarengi pembukaan jalan dan terowongan seandainya tambang emas bisa dilakukan.

 

Singkat cerita, penelitian Oppenoorth membuahkan hasil. Ternyata benar, di daerah Cikotok terdapat sumber emas yang sangat melimpah. Hanya saja, penambangan tidak mudah dilakukan. Pemerintah harus membabat hutan dan membuka banyak terowongan baru.

 

Pada 1928, total ada 25 terowongan sukses dibangun. Ini membelah perbukitan terjal, dataran tinggi, dan lembah sempit.

 

“Sebanyak kurang lebih 25 terowongan kini telah dibangun, hanya sebagian yang memiliki kedalaman tidak lebih dari 135 meter,” tulis harian Sumatra-bode (2 Maret 1928).

 

Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Tercatat, pemerintah mengeluarkan 80.000 gulden atau setara miliaran rupiah per tahun.

 

Namun, pengeluaran terbukti sebanding dengan hasil yang diterima. Sampai akhirnya, pada Maret 1928, rumor emas yang selama ini beredar berhasil terbongkar. Di Cikotok berhasil ditemukan 30 ribu ton emas tersembunyi di bawah tanah.

 

“Hingga saat ini ditemukan emas sebesar 30.000 ton dari Cikotok,” tulis Sumatra-bode.

 

Harta Karun RI Jatuh ke Tangan Asing

Sejak temuan tersebut, praktis satu Indonesia dibuat geger sebab pemerintah akan mendapat keuntungan melimpah. Setelahnya, pemerintah kolonial memberikan hak operasional kepada NV Mijnbouw Maatchappij Zuid Bantam.

 

Dari sini, penambangan emas dilakukan secara masif. Jalur pengangkutan tambang pun tak hanya diakses dari Sukabumi. Menurut harian de Indische Courant (25 Juli 1939), pemerintah kolonial membangun akses baru dari Rangkasbitung dan Pelabuhan Ratu.

 

Selain itu dibangun pula pabrik berkapasitas 20 ton per hari. Hanya saja, pabrik tersebut tak bisa menampung semua hasil eksploitasi emas saking banyaknya. Bahkan, selama pekerjaan pun, para kuli sering menemukan emas dengan berat bervariasi.

 

“Selama pekerjaan, sering ditemukan emas dengan berat beragam. Paling tinggi mencapai 126 gram,” tulis de Indische Courant (25 Juli 1939).

 

Pada 1933, penambangan emas sudah memberikan catatan baik. Tercatat ada 400 Km2 wilayah penambangan di Cikotok. Emas pun bisa diraih hanya dengan menggali 50 meter. Bahkan, pemerintah bisa mendapat emas jauh lebih besar.

 

“Jumlah emas yang terungkap dari eksplorasi berjumlah lebih dari 61.000 ton emas dengan nilai 3,68 miliar gulden,” tulis de Locomotief (29 Maret 1933).

 

Meski begitu, banyaknya emas hanya menguntungkan satu pihak saja, yakni pemerintah kolonial. Mereka makin kaya raya. Sementara, penduduk pribumi sama sekali tak mendapat keuntungan dan kesejahteraan dari penambangan emas, sekalipun pemerintah kolonial menjanjikan kesejahteraan bagi pribumi.

 

Singkat cerita, sumber emas Cikotok menjadi penambangan emas terbesar yang pernah dimiliki pemerintah kolonial hingga berlanjut ke pemerintah Republik Indonesia. Pada era kemerdekaan, tambang emas Cikotok diambil alih NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan dan kemudian diteruskan PT. Aneka Tambang pada 1974.

 

Riwayat tambang emas Cikotok harus berakhir pada 2005 karena kandungan emasnya habis. Meski habis, kejayaan tambang emas Cikotok diteruskan oleh tambang emas yang lebih besar, yakni Freeport di Papua.

Berita Terkait

Roy Suryo dan dr Tifa Ditangkap Polisi Kasus Ijazah Jokowi
Pria di Pamulang Tewas Kesetrum Listrik di Loteng Rumah, Damkar Tangsel Lakukan Evakuasi
Kondisi Wajah Sudah Rusak, Lansia Ditemukan Tewas dengan Leher Terjerat Kawat di Tangerang
UNPAM Akui Salah Satu Inisiator BEM Bersatu Adalah Mahasiswanya
DPRD Dorong Pemkot Tangsel Gugat PT Bethania, Dianggap Tak Profesional Kelola Pasar Ciputat
KNPI Tangsel Minta Perubahan di Dispora, Mukroni Diminta Tak Abaikan Kritik
Lupa Matikan Kompor, Rumah Di Pamulang Hangus Terbakar
Sambil Elus Kucing, Gibran Optimistis AI Jadi Kunci Indonesia Emas 2045

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:57 WIB

Roy Suryo dan dr Tifa Ditangkap Polisi Kasus Ijazah Jokowi

Kamis, 18 Juni 2026 - 21:19 WIB

Pria di Pamulang Tewas Kesetrum Listrik di Loteng Rumah, Damkar Tangsel Lakukan Evakuasi

Kamis, 18 Juni 2026 - 15:37 WIB

Kondisi Wajah Sudah Rusak, Lansia Ditemukan Tewas dengan Leher Terjerat Kawat di Tangerang

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:51 WIB

DPRD Dorong Pemkot Tangsel Gugat PT Bethania, Dianggap Tak Profesional Kelola Pasar Ciputat

Kamis, 18 Juni 2026 - 07:45 WIB

KNPI Tangsel Minta Perubahan di Dispora, Mukroni Diminta Tak Abaikan Kritik

Berita Terbaru

Info Banten

Roy Suryo dan dr Tifa Ditangkap Polisi Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 19 Jun 2026 - 10:57 WIB