Harian Banten – Ahmad Hariri, Kepala Desa Banyu Asih, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, menjadi perbincangan hangat warga dan media sosial. Pasalnya, ia menghibahkan tanah pribadinya seluas 50 meter persegi untuk pembangunan Posyandu sebagai upaya nyata mencegah stunting di desanya. Langkah berani dan tulus ini dinilai sebagai bukti kepedulian seorang pemimpin terhadap masa depan generasi desa.
Pemimpin yang Lahir dari Kerja Keras
Ahmad Hariri bukan sosok yang lahir dari politik. Latar belakangnya sebagai pekerja pabrik dan wirausaha membentuk karakter tangguh dan merakyat. Setelah lulus SMA, ia bekerja sebagai leader di pabrik, memimpin tim dan memastikan target tercapai. Pengalaman ini mengasah kemampuannya dalam manajemen dan kepemimpinan.
Tak berhenti di situ, Hariri juga pernah membuka usaha kecil untuk menopang ekonomi keluarga. Semua itu menjadi bekal berharga saat ia terjun ke dunia sosial dan keagamaan melalui organisasi Remaja Masjid (RISMA). Di sanalah namanya mulai dikenal karena kerap membantu warga dan memimpin berbagai kegiatan sosial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menjadi Kepala Desa Karena Kepercayaan Warga
Kedekatannya dengan masyarakat mengantarkannya menjadi Kepala Desa Banyu Asih. Ia tidak sekadar memimpin dari balik meja, tetapi turun langsung ke lapangan, mendengar keluhan warga, dan mencari solusi bersama.
Didukung istri tercinta, Ibu Juhro, serta ketiga anaknya—Reni, Rafi, dan Jihan—Hariri menjalankan kepemimpinan dengan prinsip keseimbangan antara keluarga dan pengabdian. Baginya, keluarga adalah sumber energi dan inspirasi dalam melayani masyarakat.
Hibah Tanah untuk Posyandu: Langkah Nyata Cegah Stunting
Masalah stunting menjadi perhatian utama Ahmad Hariri. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, angka stunting di Banyu Asih masih tergolong tinggi. Sebagai kepala desa, ia merasa bertanggung jawab penuh.
Baca Juga:
AutoFlight Sukses Lakukan Pengiriman Teh dengan eVTOL Kelas 2 Ton Pertama di Tiongkok
Aksi Nekat di Pabrik Nikomas, Pelaku Utama Masih Buron Usai 3 Rekannya Disidang
“Saya tidak bisa diam saja melihat data itu. Ini menyangkut masa depan anak-anak kita,” kata Hariri.
Ia pun mengambil langkah konkrit: menghibahkan tanah pribadinya untuk pembangunan Posyandu. Posyandu bukan hanya tempat timbang balita, tapi juga pusat edukasi gizi dan sanitasi bagi ibu dan anak.
Kader Posyandu, Sumiyati, mengaku terharu. “Pak Hariri bukan pemimpin yang cuma janji. Dengan hibah tanah ini, kami bisa memperluas pelayanan dan membuat warga lebih sadar akan pentingnya kesehatan anak,” ujarnya.
Program Lanjutan dan Harapan Besar
Hibah tanah hanyalah awal. Hariri juga menggagas pelatihan gizi, edukasi sanitasi, dan pemantauan kesehatan balita secara rutin. Ia ingin seluruh warga merasa memiliki dan menjaga keberlangsungan Posyandu.
Baca Juga:
Gas Subsidi Disulap Jadi LPG 12 Kg! Pertamina Langsung Putus Kontrak Pangkalan Nakal
20 Truk Disalurkan ke Koperasi Merah Putih Cilegon, Harga Pangan Siap Ditekan!
Ruang Kelas Tak Ada, Puluhan Siswa Siswa SD di Pandeglang Belajar di Musala
“Saya ingin Posyandu ini menjadi milik bersama. Kesehatan anak-anak adalah investasi masa depan,” tegas Hariri.
Hariri juga aktif mendorong pemuda untuk terlibat dalam pembangunan desa. Ia percaya, generasi muda adalah garda depan perubahan. Ia selalu hadir dalam kegiatan Karang Taruna dan RISMA, memberi motivasi dan semangat.
Visi Desa Mandiri yang Nyata
Dengan gaya kepemimpinan partisipatif, Ahmad Hariri mengajak seluruh elemen masyarakat terlibat dalam pembangunan. Infrastruktur desa seperti jalan dan irigasi menjadi prioritas. Ia menerapkan musyawarah desa sebagai sarana menyerap aspirasi langsung dari warga.
Visi besar Hariri adalah menjadikan Banyu Asih sebagai desa mandiri, sehat, dan sejahtera. Di bawah kepemimpinannya, desa ini tidak hanya mengejar pembangunan fisik, tetapi juga membangun kesadaran sosial dan kualitas hidup warganya.
Ahmad Hariri adalah sosok Kepala Desa yang layak dijadikan contoh. Kepeduliannya terhadap stunting, komitmennya dalam menghibahkan tanah pribadi, serta keterlibatannya langsung dalam kehidupan warga menjadikannya pemimpin yang bukan hanya bicara, tapi benar-benar bekerja.
Dari Desa Banyu Asih, kita belajar bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang tulus.










