HarianBanten – Apa jadinya jika terjadi kebocoran zat radioaktif atau insiden nuklir di sekitar kita? Untuk menjawab tantangan itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Japan Atomic Energy Agency (JAEA) menggelar Follow-Up Training Course on Nuclear/Radiological Emergency Preparedness (NREP) pada 19–22 Agustus 2025 di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong.
Pelatihan ini menghadirkan berbagai pihak lintas sektor. Tidak hanya peneliti BRIN, peserta juga berasal dari RSUD Kota Tangerang Selatan, TNI Angkatan Darat, BAPETEN, BMKG, BPBD Kota Tangerang Selatan, hingga pihak swasta PT Trans Dana Profit.
Pelaksana Tugas Direktur Pengembangan Kompetensi BRIN, Rahma Lina, menjelaskan tujuan utama kegiatan ini adalah membangun kesiapsiagaan menghadapi kedaruratan nuklir maupun radiologik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Penting untuk menyiapkan SDM dan manajemen kesiapsiagaan ketika terjadi kedaruratan yang berhubungan dengan aktivitas zat radioaktif maupun kenukliran,” katanya.
Menurut Rahma, kerja sama dengan JAEA membuka ruang transfer pengetahuan dan pengalaman, sekaligus memperkuat jejaring antarinstansi. “Kami berharap pelatihan ini bisa menjadi wadah pertukaran pengalaman dan kolaborasi nyata dalam menghadapi potensi kedaruratan,” tambahnya.
Tenaga ahli JAEA, Togashi Yoshihiro, mengungkapkan bahwa Indonesia–Jepang sudah menjalin kerja sama pengembangan SDM nuklir sejak 2005. Namun, khusus untuk pelatihan kesiapsiagaan darurat radiologi baru berjalan dua tahun terakhir.
“Melalui pelatihan tatap muka ini, peserta akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru, sekaligus bisa berbagi pengalaman langsung dengan pengajar maupun pakar dari Jepang,” ujarnya.
Baca Juga:
AutoFlight Sukses Lakukan Pengiriman Teh dengan eVTOL Kelas 2 Ton Pertama di Tiongkok
Aksi Nekat di Pabrik Nikomas, Pelaku Utama Masih Buron Usai 3 Rekannya Disidang
Materi yang diberikan pun cukup lengkap. Titik Sundari, Ketua Tim Pengelolaan Limbah Radioaktif BRIN, menyebut peserta dibekali pemahaman mulai dari regulasi BAPETEN, proteksi radiasi, efek biologi radiasi, pemantauan lingkungan, hingga manajemen kedaruratan.
Tak hanya teori, peserta juga mengikuti simulasi tanggap darurat nuklir. Dalam simulasi itu, mereka berlatih bagaimana merespons secara cepat jika benar-benar terjadi insiden.
“Semoga kejadian darurat tidak pernah terjadi, tetapi kemampuan ini wajib selalu disiapkan,” tegas Titik.








