Harian Banten — Menjelang akhir triwulan kedua tahun 2025, serapan anggaran Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) baru mencapai 25,36 persen. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap efektivitas pelaksanaan program pembangunan yang telah direncanakan.
Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, menjelaskan bahwa hingga pertengahan Juni, pendapatan daerah telah terealisasi sebesar 42,9 persen, namun untuk belanja anggaran masih tertahan di angka 25 persen.
“Serapan anggaran memang harusnya sudah di atas 30 persen. Ini nanti jadi bahan kami untuk evaluasi OPD-OPD. Kami juga dorong agar pendapatan bisa tembus 50 persen di akhir bulan ini,” ujar Benyamin, Kamis (19/6/2025) di RSU Pondok Aren.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengungkapkan, lambatnya serapan terutama disebabkan oleh kegiatan konstruksi fisik yang masih dalam tahap pelelangan. Sementara program non-fisik telah lebih dahulu dijalankan.
“Belanja konstruksi fisik masih dalam proses pelelangan. Sedangkan kegiatan non-konstruksi sebagian besar sudah berjalan,” jelasnya.
Sekretaris Daerah Tangsel, Bambang Noertjahjo, menambahkan bahwa efisiensi anggaran juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi lambatnya realisasi belanja.
“Prosesnya bukan berarti belum dijalankan, tapi memang sifatnya kontraktual dan masih on progress. Nanti setelah APBD Perubahan jalan, akan lebih cepat realisasinya,” kata Bambang.
Baca Juga:
AutoFlight Sukses Lakukan Pengiriman Teh dengan eVTOL Kelas 2 Ton Pertama di Tiongkok
Aksi Nekat di Pabrik Nikomas, Pelaku Utama Masih Buron Usai 3 Rekannya Disidang
Dengan waktu yang tersisa di semester kedua, Pemkot Tangsel berharap realisasi anggaran bisa melonjak, terutama memasuki triwulan ketiga yang dinilai sebagai momentum percepatan program pembangunan.








