HARIANBANTEN — Krisis sampah di Kota Tangerang Selatan memasuki fase mengkhawatirkan. TPA Cipeucang yang selama ini menjadi tumpuan utama pengelolaan sampah warga kini tidak lagi mampu menampung volume sampah harian. Pemerintah Kota Tangsel pun menyiapkan langkah darurat, salah satunya mengirim sampah ke luar daerah, termasuk ke Kota Serang.
Lonjakan produksi sampah setiap hari berbanding terbalik dengan kapasitas TPA yang semakin terbatas. Kondisi ini membuat pengelolaan sampah Tangsel berada di titik rawan, terutama jika tidak segera ditangani dengan solusi jangka pendek dan jangka panjang secara bersamaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah Kota Tangsel mengakui bahwa daya tampung TPA Cipeucang telah mendekati batas maksimal. Upaya penataan dan pembenahan masih berlangsung, namun belum cukup untuk menampung seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari.
“TPA Cipeucang saat ini dalam kondisi penuh. Karena itu, opsi kerja sama lintas daerah menjadi salah satu solusi darurat yang sedang disiapkan,” ujar pejabat terkait di lingkungan Pemkot Tangsel.
Baca Juga:
Kecelakaan Libatkan 2 Motor di Ciputat, Seorang Pengendara Meninggal di Tempat
MTsN 1 Tangsel Bantah Pungutan? Kemenag Akui Donasi Rp2,9 Juta Sudah Jadi Tradisi Tahunan
Salah satu daerah yang dijajaki sebagai lokasi pembuangan sementara adalah Kota Serang. Skema ini bersifat sementara sambil menunggu pembenahan sistem pengelolaan sampah di Tangsel, termasuk peningkatan pengolahan dan pengurangan sampah dari sumbernya.
Meski demikian, rencana pengiriman sampah ke luar daerah bukan tanpa tantangan. Selain membutuhkan anggaran besar, kerja sama ini juga memerlukan kesiapan infrastruktur serta koordinasi antar pemerintah daerah. Sejumlah pihak menilai langkah tersebut hanya akan memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya secara menyeluruh.
Baca Juga:
MTs Negeri di Tangsel Diduga Minta Donasi Rp2,9 Juta Kepada Wali Murid
Cision Luncurkan PR Newswire Amplify™ di Asia Pasifik, Perluas Kapabilitas Komunikasi Berbasis AI
Pengamat lingkungan menilai krisis ini harus menjadi momentum evaluasi serius bagi Kota Tangerang Selatan. Tanpa pengurangan sampah dari hulu, peningkatan fasilitas daur ulang, dan perubahan perilaku masyarakat, persoalan serupa akan terus berulang.
Pemerintah daerah pun mengimbau warga untuk mulai aktif memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mendukung program 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Langkah kolektif ini dinilai penting agar kondisi darurat sampah tidak semakin parah.
Jika tidak ada terobosan nyata, Tangsel berpotensi terus bergantung pada daerah lain untuk urusan sampah sebuah kondisi yang dinilai tidak ideal bagi kota penyangga ibu kota dengan pertumbuhan penduduk yang pesat.
Baca Juga:
Cision Luncurkan PR Newswire Amplify™ di Asia Pasifik, Perluas Kapabilitas Komunikasi Berbasis AI









