HARIAN BANTEN – Ketegangan global memuncak saat 40 negara berkumpul membahas krisis Selat Hormuz—tanpa kehadiran Amerika Serikat. Situasi ini memicu pertanyaan besar: apakah sekutu mulai menjauh dari Donald Trump?
Sebanyak 40 negara menggelar pertemuan virtual pada Kamis (2/4/2026) untuk membahas upaya membuka kembali Selat Hormuz yang diblokade Iran. Pertemuan yang dipimpin Inggris ini melibatkan negara-negara besar seperti Prancis, Jerman, Kanada, Uni Emirat Arab, hingga India, dengan fokus menjaga jalur distribusi energi global tetap aman.
“Iran telah membajak jalur pelayaran internasional dan menyandera ekonomi global,” ujar Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper dikutip dari Reuters.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski belum menghasilkan keputusan konkret, negara-negara peserta sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka dan tidak boleh dikenakan biaya transit oleh Iran. Pertemuan lanjutan dijadwalkan pekan depan untuk membahas opsi militer, termasuk pembersihan ranjau laut dan pengamanan kapal dagang.
“Jika Prancis atau negara lain ingin mendapatkan minyak atau gas, mereka akan melalui Selat Hormuz, pergi ke sana sendiri. Apa yang terjadi dengan selat itu, kita tidak akan ikut campur,” sindir Donald Trump di akun Truth Social pribadinya.
“AS tidak akan ada di sana untuk membantu Anda lagi, sama seperti Anda tidak ada di sana untuk kami. Iran pada dasarnya telah hancur. Bagian tersulit sudah selesai. Pergi dan ambil minyak Anda sendiri,” tulisnya.
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengingatkan risiko besar jika opsi militer diambil.
Selain itu, sejumlah negara Eropa mulai mengambil jarak dari AS. Italia menolak pendaratan pesawat pengebom AS, sementara Spanyol menutup wilayah udaranya untuk misi militer terkait Iran.
“Setelah konflik ini berakhir, kita harus meninjau kembali hubungan dengan NATO,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kepada Sean Hannity di Fox News, Rabu (1/4/2026).
Di sisi lain, Iran tetap membatasi akses Selat Hormuz sejak serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026, yang berdampak pada terganggunya sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
“Saat ini kami berada dalam kondisi perang, dan situasi perang tidak dapat diatur dengan aturan di masa damai,” tegas Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi dikutip dari IRNA.
Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyatakan kesiapan negaranya membantu menstabilkan kawasan.
“Izinkan saya menegaskan kembali bahwa kami siap melakukan segala upaya untuk membantu menstabilkan situasi dan mengembalikannya ke keadaan normal,” ujarnya kepada Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty dikutip dari Aljazeera, Jumat (3/4/2026).
Di tengah ketegangan yang belum mereda, krisis Selat Hormuz tak hanya soal energi, tetapi juga menguji kekuatan aliansi global. Dunia kini menatap apakah kerja sama internasional masih bisa bertahan tanpa dominasi Amerika.







