HARIAN BANTEN – Gangguan jalur perdagangan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran global, terutama pada pasokan pupuk dunia. Namun, bagaimana dampaknya bagi Indonesia?
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengungkapkan bahwa terganggunya jalur Selat Hormuz berdampak pada distribusi pupuk global. Meski demikian, ia menegaskan Indonesia berada dalam kondisi relatif aman karena produksi urea berbasis gas alam dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan petani tanpa ketergantungan besar pada impor.
“Jadi untuk kebutuhan pupuk kita, para petani kita, jutaan petani kita yang membutuhkan pupuk dan pupuk subsidi ini aman dalam negeri tanpa ada gangguan apa pun,” ujar Sudaryono di Jakarta, Rabu (15/4/2026) malam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk bahan lain seperti fosfat dan kalium, pemerintah telah mengantisipasi dengan strategi diversifikasi impor dari berbagai negara. Dengan total produksi pupuk mencapai sekitar 14,5 juta ton, pemerintah optimistis kebutuhan nasional tetap terpenuhi di tengah tekanan global.
“(Produksi) kita cukup. Total kebutuhan pupuk urea (secara nasional sekitar) 6,8 juta ton,” ungkap Sudaryono.
Di sisi lain, tingginya penyerapan pupuk oleh petani menjadi indikator meningkatnya aktivitas tanam nasional. Meski sempat terjadi jeda distribusi akibat lonjakan permintaan, ketersediaan pupuk secara umum tetap aman dan terkendali.
“Jadi kalau misalnya ada petani nyari pupuk di kios barangkali belum ada, tunggu 1-2 hari insya Allah nanti barang itu akan ada. Jadi bukan pupuknya nggak ada, pupuknya ada, tersedia dan cukup. Saya pastikan itu. Hanya ini karena distribusi ini jadi kejar-kejaran antara produksi dan kebutuhan pupuk,” jelasnya.
Baca Juga:
DPW PKB Banten Sukses Gelar UKK 1, Diikuti 38 Peserta
49 Siswa Cilegon Diduga Keracunan MBG, Dapur Langsung Ditutup!
Siang Jadi Debt Collector, Malam Gasak Motor! Dua Pria Dibekuk di Curug
Pemerintah juga terus memantau kebutuhan pupuk berdasarkan data tanam nasional yang dihimpun oleh penyuluh pertanian di berbagai daerah guna menjaga keseimbangan antara produksi dan distribusi.
“Ini sinyal yang positif. Kenapa? Artinya petani kita menebus pupuk berarti banyak nanam. Jadi kalau banyak nebus pupuk itu artinya banyak nanam,” tambah Sudaryono.
Dengan ketahanan produksi dalam negeri dan strategi distribusi yang terus dipantau, Indonesia menunjukkan kesiapan menghadapi gejolak global sekaligus menjaga stabilitas sektor pertanian nasional.
Baca Juga:
Warga Tangerang Tewas Setelah Epilepsi Mendadak Kambuh
ASN Pandeglang Tertipu Investasi Aplikasi, Rp200 Juta Raib dalam Sekejap!
Sumber Berita: inilah.com








