Ormas Minta Bayar 5 Milyar, BMKG Pondok Aren Lapor Ke Polisi

- Pewarta

Jumat, 23 Mei 2025 - 08:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan dugaan penyerobotan lahan negara oleh sebuah organisasi masyarakat (ormas) ke Polda Metro Jaya.

Laporan tersebut disampaikan melalui surat bernomor e.T/PL.04.00/001/KB/V/2025, yang berisi permintaan pengamanan terhadap lahan seluas 127.780 meter persegi milik BMKG di Kelurahan Pondok Betung, Tangerang Selatan.

“BMKG memohon bantuan untuk menertibkan ormas yang tanpa hak menduduki dan memanfaatkan tanah negara milik BMKG,” ujar Plt. Kepala Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama BMKG, Akhmad Taufan Maulana, di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis (22/5/2025).

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Taufan menjelaskan, gangguan terhadap lahan itu sudah berlangsung hampir dua tahun dan menghambat pembangunan Gedung Arsip BMKG yang dimulai sejak November 2023. Proyek tersebut terhambat oleh oknum yang mengaku sebagai ahli waris, serta sekelompok massa dari ormas yang memaksa pekerja menghentikan konstruksi, menarik alat berat, dan menutup papan proyek dengan klaim “Tanah Milik Ahli Waris”.

Ormas itu bahkan mendirikan pos dan menempatkan anggotanya di lokasi. Sebagian lahan juga diduga disewakan kepada pihak ketiga dan sudah berdiri bangunan di atasnya.

Padahal, BMKG menyatakan tanah tersebut sah milik negara berdasarkan Sertifikat Hak Pakai (SHP) Nomor 1/Pondok Betung Tahun 2003, yang telah diperkuat sejumlah putusan pengadilan, termasuk Putusan MA RI Nomor 396 PK/Pdt/2000 tanggal 8 Januari 2007.

Meski memiliki kekuatan hukum, BMKG mengedepankan pendekatan persuasif melalui koordinasi dengan pihak RT/RW, kecamatan, kepolisian, hingga pertemuan langsung dengan ormas dan pihak yang mengaku ahli waris. Namun, pihak ormas menolak penjelasan hukum yang diberikan. Bahkan, dalam salah satu pertemuan, mereka menuntut ganti rugi Rp5 miliar sebagai syarat penarikan massa.

BMKG menilai tuntutan itu merugikan negara, mengingat proyek pembangunan bersifat kontrak multiyears selama 150 hari kalender, dimulai sejak 24 November 2023. Taufan menekankan pentingnya gedung arsip sebagai bagian dari layanan publik dan sistem informasi kelembagaan BMKG.

“Fasilitas ini mendukung akuntabilitas dan transparansi BMKG sebagai institusi pemerintah,” tegasnya.

BMKG berharap aparat kepolisian segera mengambil tindakan agar pembangunan dapat dilanjutkan dan aset negara tetap terlindungi.

 

 

Berita Terkait

DPRD Tangsel Dorong Warga Serpong Lagoon Segera Tuntut Kompensasi Buntut Muntaber Massal
DPRD Dukung BUMD PITS Ambil Alih Distribusi Air Serpong Lagoon, Singgung Potensi PAD
2 Tahun Prabowo, Indonesia Makin Kaya, Rakyat Makin Susah?
Spesialis Maling Ban Mobil Kepergok Saat Beraksi di Stasiun Rawa Buntu Tangsel
Warga Serpong Lagoon yang Alami Muntaber Kembali Bertambah Jadi 176, 2 Anak Masih Dirawat
Warga Lagoon Serpong Tuntut Kompensasi Muntaber Massal, Wakil Walikota Tangsel Minta Perusahaan Bertanggung Jawab
Kabar Baik! Tiga Bulan Lagi Pengelolaan Air Serpong Lagoon Diambil Alih PITS
Penlok Rampung, Lahan Seluas 31.052 Meter untuk PSEL di TPA Cipeucang Akan Dibebaskan

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 18:04 WIB

DPRD Tangsel Dorong Warga Serpong Lagoon Segera Tuntut Kompensasi Buntut Muntaber Massal

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:22 WIB

DPRD Dukung BUMD PITS Ambil Alih Distribusi Air Serpong Lagoon, Singgung Potensi PAD

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:35 WIB

2 Tahun Prabowo, Indonesia Makin Kaya, Rakyat Makin Susah?

Rabu, 21 Oktober 2026 - 19:06 WIB

Spesialis Maling Ban Mobil Kepergok Saat Beraksi di Stasiun Rawa Buntu Tangsel

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:35 WIB

Warga Serpong Lagoon yang Alami Muntaber Kembali Bertambah Jadi 176, 2 Anak Masih Dirawat

Berita Terbaru

Info Banten

2 Tahun Prabowo, Indonesia Makin Kaya, Rakyat Makin Susah?

Kamis, 22 Okt 2026 - 10:35 WIB