HARIANBANTEN — Arus informasi yang semakin deras di media sosial dinilai berbanding lurus dengan meningkatnya penyebaran hoaks dan konten bermuatan SARA. Kondisi ini menjadi sorotan utama dalam diskusi refleksi akhir tahun yang digelar Barisan Mahasiswa Rano Alfath di Kota Tangerang, Sabtu (27/12/2025), yang diikuti mahasiswa lintas kampus.
Diskusi ini menegaskan posisi mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang memiliki tanggung jawab moral menjaga ruang digital tetap sehat, rasional, dan tidak terjebak pada provokasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Ketua Barisan Mahasiswa Rano Alfath, Erik Setyawan, menekankan bahwa mahasiswa tidak boleh menjadi korban apalagi penyebar informasi palsu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Media sosial hari ini sangat memengaruhi opini publik. Mahasiswa harus hadir sebagai penjernih informasi, bukan justru ikut memperkeruh dengan hoaks,” tegas Erik.
Menurutnya, literasi digital harus dibarengi dengan etika dan kesadaran sosial agar kebebasan berekspresi tidak berubah menjadi ruang saling menyerang.
Sementara itu, Ketua Barisan Muda Rano Alfath, Andry Yanto, mengingatkan bahwa media sosial sejatinya memiliki potensi besar sebagai sarana edukasi dan pemberdayaan.
“Jika digunakan secara positif, media sosial bisa mendorong kreativitas dan pengetahuan. Namun jika disalahgunakan untuk isu SARA dan ujaran kebencian, dampaknya bukan hanya sosial, tetapi juga hukum,” ujar Andry.
Baca Juga:
AutoFlight Sukses Lakukan Pengiriman Teh dengan eVTOL Kelas 2 Ton Pertama di Tiongkok
Aksi Nekat di Pabrik Nikomas, Pelaku Utama Masih Buron Usai 3 Rekannya Disidang
Ia menilai pemahaman terhadap regulasi, termasuk UU ITE, menjadi penting agar generasi muda tidak terjebak pada konsekuensi hukum akibat unggahan yang tidak bertanggung jawab.
Pandangan tersebut diperkuat oleh praktisi dan akademisi Supriadi Katong yang menilai derasnya arus informasi menuntut kedewasaan berpikir.
“Kecepatan informasi harus diimbangi dengan kecerdasan menyaring. Tanpa itu, media sosial mudah menjadi alat manipulasi dan pembentukan opini yang menyesatkan,” katanya.
Melalui diskusi refleksi akhir tahun ini, Barisan Mahasiswa Rano Alfath mendorong lahirnya kesadaran kolektif mahasiswa untuk aktif melawan hoaks, menolak politisasi isu SARA, serta berperan menjaga iklim demokrasi digital yang sehat dan bertanggung jawab.








