HARIAN BANTEN – Puluhan siswa di Kota Cilegon mendadak mengalami gejala keracunan usai menyantap program Makanan Bergizi Gratis. Kasus ini kini jadi sorotan, sementara penyebab pastinya masih diselidiki.
Kasus dugaan keracunan menimpa 49 siswa MTs Al-Inayah, Kota Cilegon, setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis, 16 April 2026. Staf Khusus Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi, Redy Hendra Gunawan, menyampaikan bahwa sebagian besar siswa sudah diperbolehkan pulang, namun masih ada yang menjalani observasi.
“Memang terjadi kejadian keamanan pangan, terdampaknya 49 orang. Tadi sekarang di cek barusan, sudah pulang semua. Terakhir ada 12 orang di Puskesmas Cibeber, yang lain 37 orang sudah pulang. Tetapi yang masih observasi ada 12 orang,” ujar Redy saat dikonfirmasi RRI, Senin 20 April 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
BGN hingga kini masih menyelidiki sumber penyebab insiden tersebut dengan melakukan uji sampel bersama BPOM dan Dinas Kesehatan. Redy menegaskan, secara operasional tidak ditemukan kendala dalam proses memasak maupun distribusi makanan yang dilakukan sejak dini hari hingga dikonsumsi siang hari.
“Kita masih ngecek sampelnya, karena kita tidak bisa menentukan faktornya karena apa. Tetapi kalau dari dari laporan SPPG, proses pemasakan dan sebagainya, tidak ada kendala operasional. Dimasaknya dini hari, kemudian yang dikirim ke MTs dan MA Al Inayah, dimasak jam 4 pagi. Jadi biasanya dikirim itu, MTS atau MA sekitar jam 9 an. Untuk dimakan di jam 11 atau jam istirahatnya jam 12,” ucapnya.
“Jadi kita cek, ini faktornya kenapa. Karena yang terdampak di satu sekolah, apakah saat distribusi terdapat kontaminasi ataukah saat misalnya mengangkut dari mobil ke sekolah, itu yang sedang kita cek sampelnya ke BPOM dan Dinkes,” katanya.
“Biasanya satu minggu, Dinkes dan BPOM mengecek. Jadi ada spesimen, ada sampel. Jadi SPPG itu selalu simpan menu yang dikeluarkan hari itu. Menu yang dikeluarkan hari itu, kalau tidak salah, mie ayam, ayam cincang kecap, sayur, tahu goreng dan buah naga. Nah biasanya SPPG, setiap dia produksi satu hari, mereka simpan 1 sampel, mereka simpan di kulkas. Kalau terjadi apa-apa, kita cek. Ini yang dicek BPOM,” ujarnya.
“Dapurnya sementara di non aktifkan, kan tidak boleh beroperasi dulu sekarang, SPPG-nya. Kalau non aktif, kepala SPPG-nya juga sementara tidak beroperasional. Tetapi dia koordinasi untuk cek sampel dan sebagainya, mereka tidak operasional SPPG. Sampai nanti hasil lab keluar dari BPOM dan Dinkes,” ucapnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah BGN Kota Cilegon, Lukiyah, menyatakan dapur SPPG di wilayah Cibeber sudah ditutup sejak Jumat, 17 April 2026, sehari setelah kejadian.
“Dari BGN, untuk sementara dapurnya ditutup dulu sampai batas waktu ditentukan nanti sampai persyaratan yang diinginkan BGN terpenuhi,” ujar Lukiyah.
“Yayasan Nurani Duafa Indonesia, berlokasi di Taman Cilegon Indah. Pemilik Pak Irfan Ali Hakim,” ucapnya.
“SLHS sedang direkomendasi, Iyah. Tinggal suratnya diterbitkan dari dinkes. Sedang direkomendasikan oleh Dinkes, IKL sudah semua, sudah lolos, IPAL sudah. Tinggal menunggu suratnya,” katanya.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat dalam program makanan massal, terutama yang menyasar pelajar. Publik kini menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan keamanan program MBG ke depan.
Sumber Berita: rri.co.id








