Mulai 1 Juli 2026, RI Stop Impor Solar! B50 Jadi Senjata Baru Energi Nasional

- Pewarta

Senin, 20 April 2026 - 13:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HARIAN BANTEN – Indonesia bersiap memasuki babak baru dalam sektor energi. Mulai pertengahan 2026, kebijakan besar akan diterapkan yang berpotensi mengubah arah ketergantungan energi nasional secara drastis.

Pemerintah memastikan akan menghentikan impor solar sepenuhnya mulai 1 Juli 2026. Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan hal tersebut saat hadir di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada Minggu, 19 April 2026.

“Kita tidak akan melakukan impor solar lagi. Pada tanggal 1 Juli 2026, kita akan berhenti, dan B50 akan mulai diterapkan,” ujar Amran.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam mendorong kemandirian energi nasional dengan mengoptimalkan pemanfaatan kelapa sawit sebagai sumber bahan bakar alternatif. Selain untuk biodiesel, pengembangan turunan sawit juga tengah dipercepat untuk menghasilkan bensin hingga etanol.

“Ini merupakan energi masa depan bagi Indonesia. Karena sumbernya berasal dari kelapa sawit. Kelapa sawit bisa menjadi solar, juga bisa menjadi bensin,” jelasnya.

Dalam pengembangannya, pemerintah akan menggandeng PTPN IV untuk menguji produksi bensin berbasis sawit dalam skala kecil sebelum diperluas ke tahap industri. Jika hasilnya positif, proyek tersebut akan diperluas secara masif.

“Jika proyek ini sukses, kami akan mengembangkannya dalam skala yang lebih besar. Ini akan memberikan masa depan yang cerah untuk Indonesia,” katanya.

Selain fokus pada energi, Amran juga meninjau inovasi teknologi di ITS, termasuk traktor listrik yang dinilai lebih efisien dan hemat biaya. Pemerintah bahkan telah memesan 10 unit untuk uji coba karena dinilai lebih ekonomis dan tidak bergantung pada solar.

“Traktor yang diproduksi ini harganya hanya setengah dari traktor biasa. Selain itu, sangat efektif, tidak menggunakan solar tetapi dengan energi listrik. Jadi ini sangat ekonomis,” ujarnya.

Langkah berani ini menandai komitmen Indonesia menuju kemandirian energi berbasis sumber daya lokal. Jika berhasil, kebijakan ini bukan hanya mengurangi impor, tetapi juga membuka peluang besar bagi industri sawit dan teknologi dalam negeri.

Sumber Berita: portallebak.pikiran-rakyat.com

Berita Terkait

Warga Serpong Lagoon Minta Dilibatkan Dalam Proses Peralihan Pengelolaan Air ke Perseroda PITS
Pengelola WTP Serpong Lagoon Bersedia Penuhi Tuntutan Kompensasi Warga
Parkir di Trotoar Hingga Bahu Jalan, 71 Kendaraan Ditindak Dishub Tangsel
Pembangunan Venue Untuk Porprov Capai 80 Persen, Sejumlah Cabor Digelar di Luar Tangsel
Pria Berjaket Ojol Begal Payudara Wanita di Pondok Aren
Korban Perundungan SMPN 10 Tangsel Belum Lapor Polisi, Kapolres: Penegakan Hukum Upaya Terakhir
Air Tercemar Sebabkan Muntaber Massal, Warga Serpong Lagoon Tuntut Kompensasi Rp539 Juta
Korban dan Terduga Pelaku Perundungan SMPN 10 Tangsel Tergabung dalam Geng ‘The Ladies’

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:27 WIB

Warga Serpong Lagoon Minta Dilibatkan Dalam Proses Peralihan Pengelolaan Air ke Perseroda PITS

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:51 WIB

Pengelola WTP Serpong Lagoon Bersedia Penuhi Tuntutan Kompensasi Warga

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:39 WIB

Parkir di Trotoar Hingga Bahu Jalan, 71 Kendaraan Ditindak Dishub Tangsel

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Pembangunan Venue Untuk Porprov Capai 80 Persen, Sejumlah Cabor Digelar di Luar Tangsel

Senin, 26 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Korban Perundungan SMPN 10 Tangsel Belum Lapor Polisi, Kapolres: Penegakan Hukum Upaya Terakhir

Berita Terbaru