HARIANBANTEN.COM – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus mengintensifkan upaya pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui berbagai program pencegahan yang melibatkan masyarakat.
Walikota Tangsel, Benyamin Davnie mengatakan, pengendalian penyebaran DBD telah dilakukan secara sistematis sejak lama. Salah satu langkah yang terus digencarkan adalah mengajak warga membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dalam gerakan menangani mengendalikan penyakit DBD di Tangerang Selatan itu sudah dilakukan secara sistematis dan sangat lama,” kata Benyamin di Puspemkot Tangsel, Kamis, 25 Juni 2026.
Selain itu, Pemkot Tangsel melalui Dinas Kesehatan juga terus mendorong program satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik).
Baca Juga:
Pemkab Lebak Gelontorkan Rp 75 M untuk Pembangunan 53 Ruas Jalan
Risen Energy Tampilkan Inovasi Energi untuk Berbagai Segmen di Intersolar Europe 2026
Yili Hadirkan Serial Komik AI, Angkat Kisah tentang Rantai Pasok Susu di Ajang China Chain Expo
Program tersebut bertujuan membangun kebiasaan masyarakat untuk rutin memeriksa dan membersihkan lokasi yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
“Bahwa gerakan satu rumah satu jemantik adalah gerakan untuk mengubah kebiasaan masyarakat kita untuk memeriksa tempat-tempat dimana jentik nyamuk itu bersarang,” ungkapnya.
Baca Juga:
Membawa Tradisi Pendidikan Berasrama asal Inggris ke Vietnam
WNA Asal Rusia Ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta, Hendak Selundupkan 3 Kilogram Hashish
Berdasarkan data Dinkes Tangsel, hingga 21 Juni 2026, jumlah kasus DBD tercatat sebanyak 229 orang. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pada 2025, jumlah kasus DBD mencapai 648 kasus. Sementara pada 2024 tercatat 754 kasus, tahun 2023 sebanyak 420 kasus, dan tahun 2022 mencapai 756 kasus.
“Data per 21 Juni ada 229. Alhamdulillah tidak ada kematian,” kata Kepala Dinkes Tangsel, Alin Hendalin Mahdaniar.
Kasus DBD tersebut tersebar di seluruh kecamatan di Kota Tangsel. Kecamatan Pamulang menjadi wilayah dengan jumlah penderita terbanyak, yakni 48 kasus. Disusul Kecamatan Ciputat sebanyak 47 kasus dan Serpong 46 kasus.
Selanjutnya, Kecamatan Pondok Aren mencatat 32 kasus, Serpong Utara 23 kasus, Setu 21 kasus, serta Ciputat Timur sebanyak 12 kasus.









