Harian Banten– Kawasan kuliner Cordoba yang terletak di jantung pemukiman Nusa Loka BSD City, Serpong Tangerang Selatan, menuai sorotan publik. Alih-alih menjadi ruang usaha yang rapi dan menarik, kawasan yang berdiri di atas lahan fasilitas sosial dan umum (fasos-fasum) itu kini dikeluhkan oleh pengunjung dan pemilik ruko akibat kondisinya yang dinilai kumuh, semrawut, dan minim penataan.
Ironisnya, saat berbagai keluhan muncul ke permukaan, para pengelola kawasan justru bungkam. Herman, yang diketahui menjabat sebagai Ketua Pengelola Kawasan Kuliner Cordoba, tidak memberikan tanggapan meski telah dihubungi melalui pesan oleh wartawan pada Jumat (11/4/2025). Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Wisnu, Ketua RW 07, yang enggan menjawab saat dikonfirmasi mengenai penunjukan Herman sebagai pengelola kawasan tersebut.
Sikap tertutup ini memicu keresahan di kalangan warga dan pemilik kios yang merasa berhak atas informasi dan transparansi dalam pengelolaan aset publik tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Seharusnya mereka terbuka saja, supaya masyarakat tidak curiga atau berspekulasi. Kalau memang tidak ada yang disembunyikan, kenapa harus takut? Yang dibutuhkan itu penjelasan terbuka mengenai program kerja dan siapa yang menunjuk mereka sebagai pengelola. Apakah dari RW, BSD, atau Pemerintah Kota?” ujar salah satu pemilik kios yang meminta namanya dirahasiakan.
Ia juga menyoroti tidak adanya transparansi keuangan, mengingat kawasan tersebut bukan milik privat, melainkan berdiri di atas tanah publik yang seharusnya dikelola secara terbuka dan dialogis.
Tokoh Publik dan Warga Desak Perubahan
Viralnya keluhan terhadap kondisi kawasan Cordoba mendapat perhatian dari berbagai tokoh masyarakat.
Baca Juga:
AutoFlight Sukses Lakukan Pengiriman Teh dengan eVTOL Kelas 2 Ton Pertama di Tiongkok
Aksi Nekat di Pabrik Nikomas, Pelaku Utama Masih Buron Usai 3 Rekannya Disidang
Alex Prabu, anggota DPRD Kota Tangerang Selatan dari Fraksi PSI, menilai Cordoba memiliki nilai strategis bagi warga dan harus segera dibenahi.
“Saya mendukung penuh upaya pembenahan di kawasan kuliner Cordoba BSD. Tempat itu sangat strategis untuk warga BSD, khususnya di Nusa Loka. Harus ditata agar bersih dan rapi supaya menarik bagi pedagang dan pengunjung,” ujarnya, Rabu (30/4/2025).
Alex juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pengelola, pemilik ruko, dan lingkungan agar potensi ekonomi kawasan tersebut bisa terus berkembang.
Senada, Marudut Sinaga, Ketua RW Sektor 14.6 Nusa Loka, menilai Cordoba sebagai aset komunitas yang perlu dikelola secara serius dan profesional.
Baca Juga:
Gas Subsidi Disulap Jadi LPG 12 Kg! Pertamina Langsung Putus Kontrak Pangkalan Nakal
20 Truk Disalurkan ke Koperasi Merah Putih Cilegon, Harga Pangan Siap Ditekan!
Ruang Kelas Tak Ada, Puluhan Siswa Siswa SD di Pandeglang Belajar di Musala
“Kawasan ini bisa sangat potensial, tapi sekarang terlihat kurang terawat, bahkan terkesan kumuh. Fasilitas seperti WC, tempat sampah, dan parkir perlu segera dibenahi,” jelasnya.
Marudut juga mempertanyakan keabsahan status pengelola saat ini. Menurutnya, karena Cordoba merupakan fasos-fasum, pengelolaannya harus mendapatkan izin dan pengawasan dari pemerintah setempat.
“Harusnya ada surat resmi dari BSD yang ditembuskan ke RW dan Kelurahan. Sampai sekarang belum pernah saya lihat itu,” ujarnya.

Uten Sutendy: Cordoba Butuh Regenerasi Pengelola
Budayawan sekaligus warga Nusa Loka, Uten Sutendy, menyampaikan kritik tajam terhadap pengelolaan Cordoba yang menurutnya tidak transparan, kaku, dan konvensional. Ia menyebut Cordoba membutuhkan figur muda yang berjiwa entrepreneur untuk membawa perubahan nyata.
“Cordoba itu bukan perusahaan pribadi. Ini milik publik. Harus dikelola secara terbuka, dialogis, dan penuh musyawarah. Kalau pengelola sekarang tidak mampu, ya dimusyawarahkan. Bisa jadi memang perlu regenerasi,” tegasnya.
Uten juga menyarankan agar pengelola aktif berdialog dengan pemilik ruko dan masyarakat, misalnya dengan pertemuan informal sambil ngopi untuk membahas penataan kawasan ke depan.
“Bukan cuma soal bersih-rapi, tapi bagaimana Cordoba punya nilai estetik dan nyaman. Jangan terus dikelola secara tradisional,” tambahnya.
Pengelolaan Tradisional Dinilai Tak Relevan
Seorang warga BSD City yang rutin mengunjungi Cordoba turut menyuarakan keprihatinan. Menurutnya, pengelolaan kawasan tersebut sudah saatnya dilakukan secara profesional.
“Kalau mau berkembang, jangan dikelola seperti warisan lama. Harus profesional, melibatkan banyak pihak, dan transparan. Apalagi ini kawasan publik,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, tim redaksi masih belum menerima tanggapan resmi dari Herman selaku ketua pengelola, maupun dari Ketua RW 07 Wisnu. Publik berharap ada langkah konkret dari pihak terkait untuk menata ulang kawasan kuliner Cordoba agar benar-benar menjadi ruang publik yang sehat, menarik, dan menguntungkan bagi semua.












