Gulma Asing dari Australia Nyaris Masuk Indonesia, Ini Tindakan Tegas Karantina

- Pewarta

Kamis, 23 April 2026 - 13:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HARIAN BANTEN – Ribuan ton gandum impor nyaris membawa ancaman serius bagi pertanian Indonesia. Di balik komoditas pangan itu, terselip gulma berbahaya yang bisa merusak ekosistem jika lolos dari pengawasan.

Badan Karantina Indonesia melalui Badan Karantina Indonesia bersama Karantina Banten mengambil langkah tegas dengan memusnahkan kontaminan gulma berbahaya yang ditemukan dalam 27 ribu ton gandum impor asal Australia. Pemusnahan dilakukan pada Rabu, 22 April 2026 di fasilitas insinerator di Cilegon, sebagai bentuk pencegahan masuknya organisme asing yang berisiko tinggi.

“Gulma Asphodelus fistulosus termasuk dalam kategori OPTK A1 yang belum terdapat di Indonesia dan memiliki risiko tinggi apabila sampai masuk dan menyebar,” ujar Duma Sari.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

“oleh karena itu, setiap komoditas atau media pembawa yang terindikasi membawa OPTK wajib dikenai tindakan karantina pemusnahan,” lanjutnya.

Gulma tersebut terdeteksi saat pemeriksaan ketat di pelabuhan Cigading, Merak. Dari total 27.000.230 kilogram gandum yang masuk, petugas menemukan sekitar 150 kilogram kontaminan berupa gulma dan material lain yang kemudian disortir dan dimusnahkan sesuai aturan.

“Secara karakteristik, gulma ini dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan adaptasi tinggi serta penyebaran yang sangat cepat. Kehadirannya ini dapat menyebabkan persaingan dengan tanaman budidaya dalam memperebutkan unsur hara, air, dan cahaya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan,” jelas Duma.

Langkah ini juga merujuk pada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina, sebagai upaya mencegah penyebaran organisme pengganggu yang dapat merusak produktivitas pertanian, meningkatkan biaya pengendalian, hingga mengganggu perdagangan internasional.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap ketahanan pangan bisa datang dari hal yang tak terlihat. Pengawasan ketat menjadi kunci agar sektor pertanian tetap terlindungi dari risiko besar yang mengintai.

Sumber Berita: tangerangnews.com

Berita Terkait

41 Dapur MBG di Tangsel Kena Suspend
Seniman Haji Bolot Jalani Perawatan di RS, Disebut Kena Serangan Jantung
Sudah Tinggal Puluhan Tahun, 4 Warga Situ Rompong Ciputat Jadi Tersangka Penyerobotan Lahan
Situ Rompong Ciputat Mau Dijadikan Perumahan, Ratusan Warga Geruduk Kejari Tangsel
Muthmainah Mundur dari Jabatan Ketua DPC PKB Tangsel Terpilih, Fokus Jalankan Tugas Legislatif
Dishub Tangsel Ajukan Hibah 10 Bus Sekolah ke Kemenhub
2 Pria Terekam CCTV Curi Kotak Amal Masjid di Serpong Utara
KNPI Tangsel Resmi Lantik Pengurus Kecamatan dan Gelar Rakerda 2025–2028, Dorong Penguatan Peran Pemuda

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 17:33 WIB

41 Dapur MBG di Tangsel Kena Suspend

Kamis, 11 Juni 2026 - 16:51 WIB

Seniman Haji Bolot Jalani Perawatan di RS, Disebut Kena Serangan Jantung

Kamis, 11 Juni 2026 - 15:51 WIB

Sudah Tinggal Puluhan Tahun, 4 Warga Situ Rompong Ciputat Jadi Tersangka Penyerobotan Lahan

Kamis, 11 Juni 2026 - 15:42 WIB

Situ Rompong Ciputat Mau Dijadikan Perumahan, Ratusan Warga Geruduk Kejari Tangsel

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:38 WIB

Dishub Tangsel Ajukan Hibah 10 Bus Sekolah ke Kemenhub

Berita Terbaru

Info Banten

41 Dapur MBG di Tangsel Kena Suspend

Kamis, 11 Jun 2026 - 17:33 WIB