M. Gojali SE, Kades Mekar Jaya Sang “Pemimpin Gercep”

- Pewarta

Senin, 7 Juli 2025 - 08:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

M. Gojali SE, Kades Mekar Jaya

M. Gojali SE, Kades Mekar Jaya

Harian Banten -Di Desa Mekar Jaya, sosok M. Gojali, SE, bukan hanya dikenal sebagai kepala desa. Ia adalah pemimpin yang selalu hadir di tengah warganya—baik dalam keadaan senang maupun susah. Banyak yang menjulukinya “Kades Gercep,” singkatan dari gerak cepat, karena kesigapannya dalam menanggapi setiap persoalan masyarakat.

Lahir di Tangerang pada 9 Maret 1980, Gojali tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai tanggung jawab sosial dan pengabdian. Bagi Gojali, menjadi kepala desa bukan sekadar mengurusi administrasi, tetapi amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. “Kalau warga susah, kita harus datang. Minimal mereka tahu pemerintah desa hadir untuk mereka,” ujarnya.

Salah satu hal yang membuat Gojali berbeda adalah keberaniannya memanfaatkan teknologi untuk mendekatkan diri kepada warga. Ia tak ragu membagikan nomor WhatsApp pribadinya ke warga, mulai dari grup RT, RW, pengurus masjid, hingga kelompok ibu-ibu posyandu. Baginya, WhatsApp bukan sekadar alat komunikasi, tetapi pusat komando pelayanan desa. Apa pun keluhan warga—mulai dari jalan rusak, lampu jalan padam, hingga permintaan bantuan darurat—semua masuk ke ponsel pribadinya dan langsung direspons. “Jam berapa pun kalau saya baca keluhan warga, saya catat dan instruksikan perangkat desa. Kita tidak boleh menunda pelayanan,” kata Gojali.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kesigapan Gojali pernah terlihat saat sebuah rumah warga roboh karena angin kencang. Belum genap dua jam setelah laporan masuk, ia sudah tiba di lokasi membawa bantuan logistik dan mengoordinasi perbaikan rumah sementara. Semua dilakukan tanpa birokrasi berbelit.

Tak hanya mengandalkan teknologi, Gojali juga rajin blusukan. Hampir setiap pagi, sebelum masuk kantor, ia menyempatkan diri menyusuri gang-gang desa. Ia menyapa warga, memeriksa kondisi infrastruktur, atau sekadar berbincang dengan para lansia yang duduk di teras rumah. Warga mengenalnya sebagai pemimpin yang ramah dan mudah didekati, namun juga tegas dalam menegur aparat desa yang bekerja lambat. “Kalau kita diberi amanah, jangan main-main,” tegasnya.

Gojali dikenal sebagai pemimpin yang inovatif. Ia mendorong digitalisasi layanan publik, seperti pengurusan administrasi berbasis WhatsApp dan Google Form, sehingga warga bisa mengurus surat-menyurat cukup dari rumah. Bahkan saat pandemi, ketika banyak desa kebingungan mendata penerima bantuan sosial, Mekar Jaya justru tampil dengan sistem data yang rapi dan transparan. Banyak kepala desa lain datang belajar ke Mekar Jaya untuk meniru sistem yang diterapkan Gojali dan timnya.

Kepercayaan terhadap Gojali tak hanya datang dari warganya. Sejak 2019, ia dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) tingkat Kecamatan Sepatan hingga 2027. Jabatan ini memberinya peran penting sebagai jembatan antar-desa, memperjuangkan alokasi anggaran ke kabupaten, dan memfasilitasi pelatihan bagi aparatur desa. Rekan-rekannya di Sepatan menyebutnya sebagai “simbol kepastian,” karena selalu menepati janji jika berjanji akan membantu.

Di tengah kesibukan sebagai kepala desa, Gojali juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di tingkat desa. Ia menggerakkan pengajian rutin, santunan anak yatim, hingga pembinaan remaja masjid. Sebagai Pembina Banser, ia tak hanya menanamkan nilai solidaritas dan pengabdian, tetapi juga memimpin langsung aksi-aksi sosial, seperti evakuasi bencana, donor darah, hingga bantuan warga terdampak musibah. “NU bukan hanya soal tahlilan. Ini soal peradaban. Kalau kita tidak jaga dari bawah, siapa lagi?” ujarnya.

Bagi Gojali, membangun desa bukan hanya soal infrastruktur. Ia percaya, pembangunan juga harus menyentuh nilai kebersamaan, toleransi, dan keilmuan agama. Karena itu, setiap program desa selalu dikaitkan dengan nilai Islam ahlussunnah wal jama’ah an-nahdliyah: moderat, toleran, seimbang, dan adil. “Desa yang kuat bukan karena banyak proyek, tapi karena generasi mudanya punya akhlak, keahlian, dan cinta Tanah Air,” tutur Gojali dalam peringatan Hari Santri Nasional.

Kini, di tangan M. Gojali SE, Desa Mekar Jaya bukan hanya dikenal sebagai desa yang maju secara fisik, tetapi juga menjadi contoh desa yang penuh kebersamaan dan kepedulian. Sosoknya menjadi bukti bahwa pemimpin desa bukan hanya urusan administrasi, tetapi tentang keberanian hadir, mendengar, dan bertindak demi masyarakat.

Berita Terkait

Pabrik Mebel di Pagedangan Kebakaran, 10 Armada Dikerahkan ke Lokasi
Antisipasi Kebabakaran, TPA Cipeucang Diurug Tanah Hingga Rutin Semprot
Melawan Saat Ditangkap, Maling Motor di Tangerang Ditembak Polisi
Pemkot Tangsel Luncurkan Datara, Masyarakat Bisa Cek Status Bansos
Organisasi Pers di Tangsel Gelar Doa Untuk 5 Jurnalis yang Hilang Kontak Saat Liputan Anak Krakatau
35 Napi High Risk dari Lapas Banten Dipindah ke Nusakambangan
Eks Rektor UIN Jakarta Dipanggil Kejati Banten, Mahasiswa Geruduk Rektorat
APBD 2027 Tangsel Diproyeksikan Rp4,9 Triliun

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 21:03 WIB

Pabrik Mebel di Pagedangan Kebakaran, 10 Armada Dikerahkan ke Lokasi

Sabtu, 12 September 2026 - 15:59 WIB

Antisipasi Kebabakaran, TPA Cipeucang Diurug Tanah Hingga Rutin Semprot

Sabtu, 12 September 2026 - 11:49 WIB

Melawan Saat Ditangkap, Maling Motor di Tangerang Ditembak Polisi

Jumat, 11 September 2026 - 14:49 WIB

Organisasi Pers di Tangsel Gelar Doa Untuk 5 Jurnalis yang Hilang Kontak Saat Liputan Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 12:26 WIB

35 Napi High Risk dari Lapas Banten Dipindah ke Nusakambangan

Berita Terbaru

Info Banten

Melawan Saat Ditangkap, Maling Motor di Tangerang Ditembak Polisi

Sabtu, 12 Sep 2026 - 11:49 WIB