Harian Banten– Poniman, SH, adalah sosok yang lahir dan besar di Desa Jatimulya, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang. Sejak kecil, ia sudah terbiasa hidup sederhana dengan keluarga petani yang mengandalkan hasil sawah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski hidup dalam keterbatasan, semangat dan tekad Poniman untuk mengubah nasib desa dan warganya sudah tumbuh sejak lama.
Dalam kesehariannya, ia sering membantu orang tuanya di ladang sekaligus belajar dari cerita para tetua desa. Pengalaman ini membekali Poniman dengan rasa kepedulian yang mendalam terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat desa yang masih banyak menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan infrastruktur.
Setelah menamatkan pendidikan dasar hingga menengah di sekolah desa, Poniman melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi, mengambil jurusan hukum di Universitas Esa Unggul Jakarta. Dengan biaya yang tidak mudah, ia menjalani masa kuliah sambil bekerja paruh waktu, demi mewujudkan impian memperbaiki kondisi desanya kelak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah lulus Sarjana Hukum, Poniman sempat bekerja sebagai staf administrasi di kantor kecamatan dan terjun ke dunia wirausaha. Namun, panggilan hati untuk mengabdi pada desanya membuatnya mantap maju dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) tahun 2019. Meski tanpa dukungan partai politik, ia memenangkan kepercayaan masyarakat berkat rekam jejak dan visi membangun desa secara mandiri.
Poniman berpegang pada prinsip kepemimpinan yang humanis dan terbuka. “Saya ingin memimpin dengan hati, tidak sekadar menjalankan administrasi, tapi benar-benar mendengarkan dan bekerja bersama warga,” ujarnya.
Transformasi Digital dan Pemberdayaan Masyarakat: Kunci Kesuksesan Desa Jatimulya
Baca Juga:
AutoFlight Sukses Lakukan Pengiriman Teh dengan eVTOL Kelas 2 Ton Pertama di Tiongkok
Aksi Nekat di Pabrik Nikomas, Pelaku Utama Masih Buron Usai 3 Rekannya Disidang
Masa jabatan Poniman langsung diwarnai dengan gebrakan inovatif yang mengubah wajah desa. Salah satu terobosan terbesar adalah penerapan sistem administrasi berbasis digital. Dengan memanfaatkan teknologi sederhana, proses pengurusan dokumen seperti KTP, surat keterangan, dan administrasi kependudukan lainnya menjadi lebih cepat, mudah, dan bebas pungutan liar. Hal ini sekaligus meningkatkan transparansi dan kepercayaan warga pada pemerintah desa.
Selain digitalisasi, Poniman menginisiasi berbagai program pemberdayaan masyarakat yang fokus pada peningkatan kualitas hidup. Melalui kolaborasi dengan pelaku usaha dan swasta, ia berhasil memperbaiki infrastruktur dasar seperti jalan desa, saluran irigasi, dan fasilitas umum yang sebelumnya kurang memadai. Pembangunan sarana MCK (mandi, cuci, kakus) yang layak juga menjadi prioritas, demi meningkatkan kesehatan warga.
Tak hanya itu, Poniman aktif membina kelompok-kelompok perempuan dan pemuda untuk meningkatkan keterampilan mereka, mulai dari kerajinan tangan hingga pelatihan wirausaha kecil. Program pelatihan ini membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperkuat ikatan sosial di desa.
Desa Jatimulya, yang sebelumnya bergantung pada sektor pertanian tradisional dengan lahan yang mulai menyusut akibat urbanisasi, kini mulai bertransformasi menjadi desa yang mandiri dan adaptif terhadap perubahan zaman. Potensi sumber daya lokal dikelola secara optimal, dengan visi agar desa tidak hanya bertahan, tapi berkembang dan berdaya saing di era modern.
Baca Juga:
Gas Subsidi Disulap Jadi LPG 12 Kg! Pertamina Langsung Putus Kontrak Pangkalan Nakal
20 Truk Disalurkan ke Koperasi Merah Putih Cilegon, Harga Pangan Siap Ditekan!
Ruang Kelas Tak Ada, Puluhan Siswa Siswa SD di Pandeglang Belajar di Musala
Kepemimpinan yang Berbasis Musyawarah dan Regenerasi untuk Masa Depan Cerah
Poniman sangat menekankan prinsip musyawarah mufakat dalam menjalankan roda pemerintahan desa. Setiap rencana pembangunan dan kebijakan diambil bersama dalam forum musyawarah desa yang melibatkan semua elemen masyarakat: tokoh adat, tokoh pemuda, perempuan, serta perangkat desa. Dengan begitu, keputusan yang diambil lebih tepat sasaran dan mendapat dukungan luas.
Kepemimpinan Poniman tidak bersifat otoriter. Ia hadir sebagai fasilitator dan pendengar yang terbuka, mendorong partisipasi aktif warga dalam setiap tahap pembangunan. Pendekatan ini memperkuat rasa memiliki warga terhadap desa dan menumbuhkan semangat gotong royong.
Selain fokus pada pembangunan fisik dan sosial, Poniman juga memikirkan keberlanjutan kepemimpinan desa. Ia mendorong regenerasi dengan memberikan ruang bagi pemuda untuk berperan aktif dalam pemerintahan desa dan kehidupan sosial. Program beasiswa bagi anak-anak kurang mampu juga disediakan agar generasi penerus dapat memperoleh pendidikan yang layak dan mampu menjadi pemimpin masa depan.
Dengan visi yang jelas, sikap rendah hati, dan komitmen kuat untuk mengabdi, Poniman berhasil membangun Desa Jatimulya menjadi desa mandiri yang tidak hanya maju secara ekonomi, tapi juga solid dalam nilai kebersamaan dan demokrasi.
Profil Poniman, SH dan keberhasilan Desa Jatimulya merupakan contoh nyata bahwa kepemimpinan yang berakar pada rasa memiliki, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat mampu mengubah wajah desa menjadi lebih modern, berdaya saing, dan berkelanjutan. Desa Jatimulya kini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Tangerang dalam menghadapi tantangan pembangunan di era globalisasi.










