Harian Banten– Jumat pagi di Desa Sentul Jaya terasa lebih santai dari biasanya. Di beranda kantor desa yang tertata rapi dan nyaman, seorang pria berusia 42 tahun duduk menyeruput kopi hitam dengan senyum tenang. Ia mengenakan kaus polos, celana santai, dan peci hitam—penampilan sederhana yang mencerminkan kepribadiannya. Dialah Muhammad Sukron, sosok Kepala Desa Sentul Jaya yang tak pernah bercita-cita jadi pemimpin, tapi kini menjadi kebanggaan warganya.
“Saya tidak pernah bercita-cita jadi kepala desa,” ucapnya suatu hari, dengan senyum yang tulus.
Dan memang benar. Sukron bukan anak pejabat, bukan pula aktivis politik. Ia lahir dan besar di luar Sentul Jaya. Hidupnya sederhana, dibesarkan dengan nilai-nilai jujur, rendah hati, dan pekerja keras. Semua berubah ketika ia menikahi seorang gadis asal Sentul Jaya pada tahun 2001. Dari sanalah ikatan antara Sukron dan desa ini perlahan tumbuh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari Menantu Biasa ke Sosok Pemimpin
Mertuanya, seorang tokoh masyarakat yang sangat dihormati, mulai melihat potensi Sukron. Bukan karena latar belakang akademik atau pengalaman organisasi, tapi karena sikapnya: sopan, pendiam, dan jika berbicara, selalu rasional. Suatu hari, sang mertua mengusulkan Sukron untuk maju sebagai calon kepala desa.
Sukron terkejut. Ia bahkan belum paham benar bagaimana pemerintahan desa bekerja. Tapi ajakan itu ia terima sebagai amanah. Ia pun mulai belajar pelan-pelan, dari nol.
Maju Tanpa Janji, Menang Karena Kepercayaan
Tahun itu, Sukron mencalonkan diri dalam Pilkades. Tanpa baliho besar. Tanpa tim sukses yang ribut. Ia mendatangi rumah warga satu per satu, menyampaikan niatnya, mendengarkan keluhan mereka. Ia datang bukan sebagai politisi, tapi sebagai bagian dari desa. Seorang menantu yang tulus ingin mengabdi.
Baca Juga:
AutoFlight Sukses Lakukan Pengiriman Teh dengan eVTOL Kelas 2 Ton Pertama di Tiongkok
Aksi Nekat di Pabrik Nikomas, Pelaku Utama Masih Buron Usai 3 Rekannya Disidang
Tak disangka, warga menjatuhkan pilihan padanya. Ia menang. Dan sejak itu, hidup Sukron berubah total. Ia mulai menyelami dunia pemerintahan: dari administrasi, pembangunan, pemberdayaan masyarakat, hingga menjaga harmoni sosial.
Desa Mulai Berbenah
Di bawah kepemimpinannya, Desa Sentul Jaya mulai bertransformasi. Kantor desa diperindah. Lahan kosong disulap menjadi Gedung Serba Guna, tempat warga berkegiatan. Ia juga membangun perpustakaan desa — sederhana, tapi cukup untuk anak-anak belajar dan warga membaca informasi penting.
Namun, bukan hanya pembangunan fisik yang ia pikirkan. Tantangan besar lain adalah pengangguran.
“Ironis ya, di desa kita ini ada perusahaan, tapi tetap banyak yang nganggur,” katanya.
Baca Juga:
Gas Subsidi Disulap Jadi LPG 12 Kg! Pertamina Langsung Putus Kontrak Pangkalan Nakal
20 Truk Disalurkan ke Koperasi Merah Putih Cilegon, Harga Pangan Siap Ditekan!
Ruang Kelas Tak Ada, Puluhan Siswa Siswa SD di Pandeglang Belajar di Musala
Sukron mulai menjalin komunikasi dengan perusahaan, membuka pelatihan keterampilan, bahkan menggandeng Balai Latihan Kerja dari kabupaten. Ia tahu, tidak semua warga siap bersaing, maka ia juga membentuk kelompok usaha mikro, koperasi pemuda, dan memanfaatkan lahan desa untuk menyerap tenaga kerja.
Pemimpin yang Mau Belajar
Sukron sadar, dirinya bukan lulusan pemerintahan. Maka ia pun belajar. Ia mulai membaca buku-buku tentang Undang-undang Desa, Permendagri, hingga dokumen musyawarah desa. Ia sering bertanya kepada pamong desa yang lebih muda. Ia datang ke pelatihan, duduk di belakang ruangan, dan menyimak. Ia bahkan menjadikan warung kopi sebagai ruang diskusi santai dengan kepala desa dari desa tetangga.
“Saya ini bukan orang pintar, tapi saya suka ngerti,” ujarnya sambil tertawa.
Ia pun mendorong perangkat desanya untuk ikut pelatihan, membiasakan evaluasi rutin, dan membangun sistem kerja yang lebih transparan. Ia percaya, membangun desa dimulai dari membangun SDM-nya.
Hari ini, Sukron sudah akrab dengan istilah seperti RPJMDes, RKPDes, APBDes, dan musrenbang. Ia bahkan mulai mempelajari konsep smart village, digitalisasi pelayanan publik, serta membuka peluang kerja sama dengan sektor swasta.
Tetap Membumi
Meski kini menjabat kepala desa dan telah menerima berbagai penghargaan lokal, Sukron tak berubah. Ia masih tinggal di rumah sederhana, masih menyapa warga di pasar, dan masih hadir di setiap hajatan. Setiap Sabtu pagi, ia menyempatkan diri untuk “nyantai” — bukan untuk bermalas-malasan, tapi untuk merenung dan melihat desa dari sudut tenang.
Dari beranda kantor desa, ia menyaksikan anak-anak bermain, ibu-ibu senam, pemuda berdiskusi soal turnamen voli antar RW. Momen seperti itu yang membuatnya merasa: perjuangannya tidak sia-sia.
“Kalau Allah takdirkan saya jadi kades, ya saya jalani. Tapi kalau nanti takdir berkata lain, saya siap kembali jadi warga biasa. Yang penting, desa ini tetap maju dan rukun,” ujarnya lembut.
Muhammad Sukron bukan pemimpi besar yang mengejar panggung. Ia adalah pemimpin yang hadir karena kebutuhan masyarakat dan menjalankan amanah dengan hati terbuka.
Ia tidak dibentuk oleh ambisi, tapi oleh ruang tamu warga, diskusi di warung kopi, dan catatan kecil di sudut rumah. Ia adalah contoh bahwa pemimpin yang baik tidak selalu datang dari mereka yang paling pintar, tapi dari mereka yang paling mau belajar dan paling tulus mengabdi.
Dan hari ini, warga Sentul Jaya sepakat menyebutnya: pemimpin yang membumi — pemimpin dari rakyat, oleh rakyat, dan tetap bersama rakyat.











