Siapa sangka, seorang perempuan sederhana lulusan PGAN justru berhasil memimpin sebuah desa menjadi juara tingkat nasional? Inilah kisah Hj. Imas Rayulatifah, Kepala Desa Cirarab, yang memimpin bukan dengan kekuasaan, tapi dengan hati—dan cinta.
Di sebuah sudut Kabupaten Tangerang, tepatnya di Desa Cirarab, Kecamatan Legok, ada sosok pemimpin yang keberadaannya selalu ditunggu dan kehadirannya tak pernah terasa jauh dar rakyatnya. Bukan karena gebrakan politik yang heboh. Bukan pula karena program-program viral yang mengejutkan. Tapi karena sikapnya yang lembut, keibuannya yang tulus, dan teladannya yang nyata.
Dialah Hj. Imas Rayulatifah, kepala desa dua periode yang berhasil menjadikan Desa Cirarab sebagai salah satu desa terbaik tingkat nasional. Bukan dengan gaya otoriter, melainkan dengan sapaan hangat, senyum tulus, dan kehadiran nyata dalam setiap denyut kehidupan masyarakatnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ibu Kami Semua”
Bagi warga Cirarab, Bu Imas bukan cuma kepala desa. Ia adalah ibu bagi lebih dari 10.000 warga. Pagi-pagi, ia kerap terlihat berjalan kaki menyusuri kampung—berseragam dinas, menyapa warga satu per satu. Jika ada yang sakit, ia datang menjenguk. Jika ada yang wafat, ia turut mengantar ke pemakaman. Kalau ada anak putus sekolah, ia cari jalan keluarnya.
“Ibu Haji itu bukan cuma pemimpin. Beliau ibu kami semua,” kata Ibu Sri, warga RW 05, dengan mata berkaca-kaca. “Kalau beliau datang, rasanya rumah kami kedatangan keluarga sendiri.”
Pendekatan keibuan itulah yang menjadi kunci kesuksesan kepemimpinan Hj. Imas. Ia membuktikan bahwa dalam dunia pemerintahan desa, kehadiran yang tulus jauh lebih bermakna daripada sekadar pencitraan.
Baca Juga:
AutoFlight Sukses Lakukan Pengiriman Teh dengan eVTOL Kelas 2 Ton Pertama di Tiongkok
Aksi Nekat di Pabrik Nikomas, Pelaku Utama Masih Buron Usai 3 Rekannya Disidang
Dari PGAN ke Balai Desa
Lahir di Bogor, 21 Oktober 1971, Hj. Imas menempuh pendidikan di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN), sekolah yang dulunya mencetak para guru agama di tingkat dasar. Filosofi mendidik yang ia pelajari di bangku sekolah itulah yang kini ia terapkan dalam memimpin desa.
“Bagi saya, memimpin itu ya seperti mendidik: sabar, mendengar, dan membentuk karakter,” ujarnya suatu ketika.
Ia tidak pernah menggunakan pendekatan keras. Bahkan saat menghadapi masalah klasik seperti kebersihan lingkungan, ia memilih jalan edukasi: dari RT, posyandu, hingga anak-anak sekolah. “Kalau cuma dilarang, warga takut. Tapi kalau diberi pemahaman, mereka akan sadar dan menjaga,” tuturnya.
Desa Juara Berkat Sentuhan Ibu
Dengan gaya kepemimpinan yang membumi dan merangkul, Hj. Imas berhasil membawa Desa Cirarab menorehkan prestasi yang mengagumkan:
Baca Juga:
Gas Subsidi Disulap Jadi LPG 12 Kg! Pertamina Langsung Putus Kontrak Pangkalan Nakal
20 Truk Disalurkan ke Koperasi Merah Putih Cilegon, Harga Pangan Siap Ditekan!
Ruang Kelas Tak Ada, Puluhan Siswa Siswa SD di Pandeglang Belajar di Musala
-
Juara 1 Lomba Desa Tingkat Kabupaten Tangerang
-
Juara 1 Lomba Desa Tingkat Provinsi Banten
-
Masuk dalam kategori desa terbaik tingkat nasional Regional Jawa-Bali
Semua prestasi itu tak diraih dalam semalam. Ia memulainya dari hal-hal sederhana: memperbaiki pelayanan publik, menata arsip desa, membangun sistem digital, hingga mendorong kelompok perempuan dan pemuda untuk berdaya.
Digitalisasi Desa ala Ibu Haji
Di tengah perkembangan zaman, Bu Imas tidak mau ketinggalan. Ia membangun sistem pelayanan administrasi berbasis digital—dari pengurusan surat domisili, SKCK, hingga keterangan usaha, semua bisa diakses lebih cepat dan transparan.
“Saya ingin warga percaya bahwa desa hadir untuk memudahkan, bukan mempersulit,” katanya.
Warga pun merasakan manfaatnya. Antrian panjang jadi berkurang, urusan lebih mudah, dan kepercayaan terhadap pemerintahan desa meningkat drastis.
Bersama Rakyat Saat Sulit, Bukan Hanya di Panggung Seremonial
Saat pandemi Covid-19 melanda, Bu Imas tidak bersembunyi di balik meja. Ia turun langsung ke lapangan: membagikan masker, mendampingi warga isoman, hingga mengatur distribusi bansos agar tepat sasaran.
Ia hadir bukan hanya saat seremoni atau ketika kamera menyala. Ia hadir dalam sunyi, di gang-gang sempit, di rumah-rumah warga yang sedang kesusahan.
Tak heran, saat ia kembali mencalonkan diri pada 2019, warga Cirarab tanpa ragu memberinya kepercayaan untuk melanjutkan kepemimpinan. “Kami percaya sama Bu Kades, karena beliau tidak pernah meninggalkan kami,” ujar Pak Deni, tokoh masyarakat setempat.
Menyiapkan Masa Depan, Bukan Sekadar Masa Jabatan
Kini, di periode kedua kepemimpinannya, Hj. Imas tidak hanya fokus pada program-program jangka pendek. Ia tengah menyiapkan sistem regenerasi kepemimpinan, mendampingi anak-anak muda agar siap menjadi pemimpin masa depan. Ia pun mengembangkan peta potensi wilayah dan sistem arsip digital desa yang akan berguna untuk perencanaan jangka panjang.
“Yang saya bangun bukan hanya desa hari ini, tapi desa untuk anak cucu kita nanti,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Bu Imas dan Warisan Kepemimpinan yang Mengasuh
Kepemimpinan Hj. Imas Rayulatifah membuktikan satu hal penting: bahwa memimpin dengan hati bukan kelemahan, tapi kekuatan. Bahwa sentuhan keibuan mampu membawa perubahan yang tak hanya terlihat di data, tetapi terasa di hati masyarakat.
Ia tidak punya gaya mewah atau kata-kata bombastis. Tapi ia punya apa yang tidak semua pemimpin miliki: ketulusan dan konsistensi.
Dalam sejarah Desa Cirarab, nama Hj. Imas Rayulatifah akan tercatat dengan tinta emas. Ia bukan hanya pemimpin dua periode. Ia adalah simbol pengabdian, cinta, dan pelayanan sejati.
Dan selama ia masih menyusuri kampung, menyapa warga dengan sapaan “Assalamu’alaikum, Bu… sehat?”, maka selama itu pula Cirarab akan terus berjalan di jalan yang benar—jalan kebersamaan, pelayanan, dan harapan.











