HARIANBANTEN — Dugaan kasus pelecehan seksual kembali mencoreng dunia pendidikan di Kota Tangerang Selatan. Seorang oknum guru sekolah dasar negeri berinisial Y, yang diketahui menjabat sebagai wali kelas di SD Negeri Rawa Buntu 1, Serpong, diduga melakukan tindakan tidak senonoh terhadap sejumlah murid laki-laki.
Kasus ini terungkap setelah salah satu orang tua siswa melaporkan dugaan pelecehan yang dialami anaknya kepada pihak sekolah. Laporan tersebut kemudian berkembang dan membuka fakta bahwa korban diduga tidak hanya satu orang. Dari laporan awal yang masuk, jumlah korban terus bertambah hingga mencapai belasan siswa.
Kepala SD Negeri Rawa Buntu 1, Tarmiati, membenarkan adanya laporan tersebut. Ia mengatakan laporan pertama diterima pada Kamis (15/1) dan langsung ditindaklanjuti tanpa menunggu waktu lama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Awalnya orang tua datang melapor dan menyampaikan bahwa anaknya mengalami perlakuan tidak pantas. Dari laporan awal itu disebutkan ada sekitar tujuh anak. Saya langsung menerima laporan tersebut dan menindaklanjutinya,” ujar Tarmiati saat ditemui di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan, Senin (19/1).
Setelah menerima laporan, pihak sekolah langsung memanggil guru yang diduga sebagai pelaku untuk dimintai klarifikasi. Dalam pertemuan tersebut, oknum guru Y akhirnya mengakui perbuatannya.
“Yang bersangkutan mengakui perbuatannya dan menyampaikan permintaan maaf. Dari situ kami langsung mengambil langkah tegas,” kata Tarmiati.
Sebagai bentuk tanggung jawab dan perlindungan terhadap siswa, pihak sekolah memutuskan untuk merumahkan oknum guru tersebut serta melaporkan kejadian ini secara resmi kepada Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan.
Baca Juga:
AutoFlight Sukses Lakukan Pengiriman Teh dengan eVTOL Kelas 2 Ton Pertama di Tiongkok
Aksi Nekat di Pabrik Nikomas, Pelaku Utama Masih Buron Usai 3 Rekannya Disidang
“Kasus seperti ini tidak bisa ditoleransi. Ini menyangkut keselamatan dan masa depan anak-anak. Kami langsung membuat laporan resmi ke dinas di hari yang sama,” tegasnya.
Berdasarkan data sementara, hingga kini tercatat 17 siswa laki-laki telah melaporkan diri sebagai korban. Modus yang digunakan pelaku diduga dengan memberikan iming-iming uang dan makanan. Para korban mengaku mengalami perlakuan tidak pantas, mulai dari dipangku, dipeluk, dicium, hingga tindakan yang mengarah pada pelecehan fisik serius.
Kasus ini kini berada dalam penanganan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Tangerang Selatan. Kepala UPTD PPA Tangsel, Tri Purwanto, menegaskan bahwa fokus utama penanganan saat ini adalah pemulihan kondisi psikologis para korban.
“Yang paling penting adalah menjaga kondisi mental dan psikologis anak-anak. Trauma akibat kejadian seperti ini bisa berdampak panjang jika tidak ditangani sejak dini,” ujarnya.
Baca Juga:
Gas Subsidi Disulap Jadi LPG 12 Kg! Pertamina Langsung Putus Kontrak Pangkalan Nakal
20 Truk Disalurkan ke Koperasi Merah Putih Cilegon, Harga Pangan Siap Ditekan!
Ruang Kelas Tak Ada, Puluhan Siswa Siswa SD di Pandeglang Belajar di Musala
Tri menambahkan, pihaknya siap mendampingi korban dan keluarga dalam proses hukum apabila kasus ini dilanjutkan ke ranah kepolisian. Selain itu, tim psikolog juga akan diterjunkan untuk memberikan layanan konseling kepada seluruh korban.
“Pendampingan psikolog menjadi prioritas kami. Jangan sampai anak-anak terus membawa trauma ini hingga dewasa,” pungkasnya.
Hingga kini, UPTD PPA Tangsel masih terus mendalami kasus tersebut dan tidak menutup kemungkinan jumlah korban bertambah seiring proses pendataan dan pendampingan yang masih berlangsung.









