HARIANBANTEN – Christiana Budiyati alias Bu Budi, guru senior di SDK Mater Dei Pamulang, kini menghadapi laporan polisi atas dugaan kekerasan verbal terhadap muridnya. Kasus ini memicu gelombang dukungan daring lewat petisi “Keadilan untuk Bu Budi”, yang telah ditandatangani ribuan orang.
Peristiwa bermula Agustus 2025 saat lomba sekolah. Seorang murid terjatuh saat mencoba menggendong rekannya, tapi teman-temannya justru memilih diam. Nurani Bu Budi tergugah. Ia lantas memberi teguran edukatif kepada seluruh kelas tentang tanggung jawab, empati, dan nilai Pancasila. Teguran itu kolektif, tanpa makian atau serangan personal.
Namun, persepsi berbeda muncul dari salah satu murid yang merasa terpojok. Mediasi keluarga sempat ditempuh, tapi murid itu akhirnya pindah sekolah dan laporan resmi dikirim ke Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak serta Polres Tangerang Selatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seorang petugas keamanan yang lama mengenal Bu Budi menegaskan:
“Bu Budi adalah guru matang dan berpengalaman. Semua sudah dicek rekaman CCTV, bersih. Tidak ada makian seperti yang dituduhkan. Bahkan orang tua murid lain menyaksikan sendiri.”
Petisi daring menyoroti risiko kriminalisasi guru:
“Jika tindakan edukatif seperti ini dipidanakan, guru akan bekerja dalam ketakutan. Ruang pendidikan akan kehilangan keberanian untuk mendidik secara utuh,” tulis penggagas petisi.
Meski kegiatan belajar tetap berjalan, bayang-bayang kasus ini meninggalkan luka bagi alumni, orang tua, dan rekan guru. Nasib Bu Budi kini berada di tangan aparat hukum, sementara dunia pendidikan Tangerang Selatan menahan napas menanti keadilan bagi guru yang hanya ingin menanamkan empati dan tanggung jawab pada muridnya








