HARIANBANTEN – Banjir berulang yang melanda Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, kian menekan kehidupan petani. Dalam kurun waktu satu bulan, banjir terjadi hingga tiga kali dan menyebabkan ratusan hektare sawah terendam, merusak tanaman padi, serta memicu gagal panen di sejumlah desa.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Bayur Jaya, Sibti, mengatakan banjir kali ini jauh lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Wilayah pertanian yang terdampak meliputi Desa Kalumpang, Desa Batukuwung, dan yang terparah Desa Citasuk. Sawah tidak hanya tergenang air, tetapi juga tertutup lumpur kiriman dari aliran sungai yang meluap.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau kondisi sekarang memang gagal panen. Banyak padi terendam air dan lumpur. Dalam satu bulan ini kami mengalami banjir sampai tiga kali,” kata Sibti, Sabtu (3/1/2026).
Ia menjelaskan, banjir pertama terjadi pada 13–15 Desember 2025, lalu kembali datang dalam selang waktu yang berdekatan. Puncak banjir terjadi pada awal Januari 2026 dengan debit air sangat tinggi, membuat tanaman padi yang sebagian besar siap panen tak bisa diselamatkan.
Baca Juga:
Pria Gali Makam Ibu Kandung Di Sengkol Dicari Polisi, Ini Penyebabnya
Benyamin Putuskan Perpanjang Bambang Noertjahjo Sebagai Sekda Tangsel
Sumbang Banyak Pengangguran, Jurusan Sekretaris hingga Akuntansi Bakal Dihapus dari SMK di Banten
“Airnya lebih tinggi dari padi yang sedang berdiri. Saat dipanen pun padinya bercampur lumpur. Bahkan ada yang hanyut dan tertimbun,” ujarnya.
Dampak banjir ini tidak hanya dirasakan secara kolektif, tetapi juga menimbulkan kerugian besar bagi petani secara individu. Sibti mengungkapkan, lahan sawah seluas 1,5 hektare miliknya terdampak langsung dan berpotensi gagal panen total. Kondisi serupa dialami banyak petani lain di Padarincang yang menggantungkan hidup dari hasil sawah.
Baca Juga:
Sekda Banten Tegaskan Tak Ada Open Bidding Sekda Tangsel
Cekcok Keluarga Berujung Geger, Pria di Sengkol Nekat Bongkar Makam Ibu Kandung
Situasi diperparah dengan sistem panen yang masih dilakukan secara manual. Padi yang telah dipotong dan ditumpuk di sawah terpaksa diinapkan semalaman sebelum diangkut, namun justru kembali terendam banjir.
“Karena masih manual, padi ditumpuk dulu. Tapi malamnya banjir lagi. Akhirnya banyak yang rusak, hanyut, dan tertimbun lumpur,” jelas Sibti.
Tak hanya sektor pertanian, banjir juga merendam rumah-rumah warga di sekitar area persawahan. Menurut Sibti, intensitas banjir tahun ini menjadi yang terburuk sepanjang ia menjadi petani.
Baca Juga:
24 SMP Negeri di Tangsel Akan Terima 9.976 Siswa Baru pada SPMB 2026
Kabel Melintang di Jalan Ciputat Timur, Ancam Keselamatan Pengemudi
“Banjir tahunan memang ada, tapi tidak segencar dan serutin sekarang. Tahun ini yang paling parah,” tegasnya.
Ia juga menyoroti lemahnya infrastruktur pertanian yang dinilai memperparah dampak banjir. Hingga kini, jaringan irigasi di Padarincang belum menjangkau seluruh area persawahan dan masih mengandalkan parit-parit kecil yang rawan tersumbat.
“Masuk ke sawah itu belum sampai 50 persen ada irigasi. Masih parit-parit biasa, itu yang jadi penyumbatan,” ungkapnya.
Selain irigasi, kondisi Jalan Usaha Tani (JUT) juga dikeluhkan karena jaraknya jauh dan rusak parah, terutama saat musim hujan. Hal ini menyulitkan petani mengangkut hasil panen dari sawah ke permukiman.
“Untuk angkut padi dari sawah ke kampung itu sangat jauh. Jalannya becek, motor saja sering tidak bisa lewat,” katanya.
Atas kondisi tersebut, Sibti berharap pemerintah daerah maupun provinsi segera turun tangan. Ia meminta Dinas PUPR melakukan normalisasi sungai, pembangunan irigasi yang merata, serta perbaikan Jalan Usaha Tani agar bencana serupa tidak terus berulang dan kesejahteraan petani di Kecamatan Padarincang dapat terjaga.













