Banjir Tiga Kali Sebulan, Petani Padarincang Alami Kerugian Besar

- Pewarta

Sabtu, 3 Januari 2026 - 22:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petani Padarincang Mengalami Kerugian Besar Akibat Banjir 3 Kali Selama Sebulan

Petani Padarincang Mengalami Kerugian Besar Akibat Banjir 3 Kali Selama Sebulan

HARIANBANTEN – Banjir berulang yang melanda Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, kian menekan kehidupan petani. Dalam kurun waktu satu bulan, banjir terjadi hingga tiga kali dan menyebabkan ratusan hektare sawah terendam, merusak tanaman padi, serta memicu gagal panen di sejumlah desa.

 

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Bayur Jaya, Sibti, mengatakan banjir kali ini jauh lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Wilayah pertanian yang terdampak meliputi Desa Kalumpang, Desa Batukuwung, dan yang terparah Desa Citasuk. Sawah tidak hanya tergenang air, tetapi juga tertutup lumpur kiriman dari aliran sungai yang meluap.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

“Kalau kondisi sekarang memang gagal panen. Banyak padi terendam air dan lumpur. Dalam satu bulan ini kami mengalami banjir sampai tiga kali,” kata Sibti, Sabtu (3/1/2026).

 

Ia menjelaskan, banjir pertama terjadi pada 13–15 Desember 2025, lalu kembali datang dalam selang waktu yang berdekatan. Puncak banjir terjadi pada awal Januari 2026 dengan debit air sangat tinggi, membuat tanaman padi yang sebagian besar siap panen tak bisa diselamatkan.

 

“Airnya lebih tinggi dari padi yang sedang berdiri. Saat dipanen pun padinya bercampur lumpur. Bahkan ada yang hanyut dan tertimbun,” ujarnya.

 

Dampak banjir ini tidak hanya dirasakan secara kolektif, tetapi juga menimbulkan kerugian besar bagi petani secara individu. Sibti mengungkapkan, lahan sawah seluas 1,5 hektare miliknya terdampak langsung dan berpotensi gagal panen total. Kondisi serupa dialami banyak petani lain di Padarincang yang menggantungkan hidup dari hasil sawah.

 

Situasi diperparah dengan sistem panen yang masih dilakukan secara manual. Padi yang telah dipotong dan ditumpuk di sawah terpaksa diinapkan semalaman sebelum diangkut, namun justru kembali terendam banjir.

 

“Karena masih manual, padi ditumpuk dulu. Tapi malamnya banjir lagi. Akhirnya banyak yang rusak, hanyut, dan tertimbun lumpur,” jelas Sibti.

 

Tak hanya sektor pertanian, banjir juga merendam rumah-rumah warga di sekitar area persawahan. Menurut Sibti, intensitas banjir tahun ini menjadi yang terburuk sepanjang ia menjadi petani.

 

“Banjir tahunan memang ada, tapi tidak segencar dan serutin sekarang. Tahun ini yang paling parah,” tegasnya.

 

Ia juga menyoroti lemahnya infrastruktur pertanian yang dinilai memperparah dampak banjir. Hingga kini, jaringan irigasi di Padarincang belum menjangkau seluruh area persawahan dan masih mengandalkan parit-parit kecil yang rawan tersumbat.

 

“Masuk ke sawah itu belum sampai 50 persen ada irigasi. Masih parit-parit biasa, itu yang jadi penyumbatan,” ungkapnya.

 

Selain irigasi, kondisi Jalan Usaha Tani (JUT) juga dikeluhkan karena jaraknya jauh dan rusak parah, terutama saat musim hujan. Hal ini menyulitkan petani mengangkut hasil panen dari sawah ke permukiman.

 

“Untuk angkut padi dari sawah ke kampung itu sangat jauh. Jalannya becek, motor saja sering tidak bisa lewat,” katanya.

 

Atas kondisi tersebut, Sibti berharap pemerintah daerah maupun provinsi segera turun tangan. Ia meminta Dinas PUPR melakukan normalisasi sungai, pembangunan irigasi yang merata, serta perbaikan Jalan Usaha Tani agar bencana serupa tidak terus berulang dan kesejahteraan petani di Kecamatan Padarincang dapat terjaga.

Berita Terkait

Kementerian PU Akan Tata Wilayah Tangsel, Kemacetan Hingga Banjir Menjadi Sorotan
Pelajar Tewas Tertabrak Kereta di Stasiun Jurangmangu
Serpong Jadi Wilayah dengan Angka Stunting Terbanyak di Tangsel, 60 Anak Dapat Intervensi
Lansia Disekap di Apartemen Serpong, Mobil Hingga Handphone Digasak Pelaku
Penderita ISPA di Tangsel Meningkat Selama Musim Kemarau 2026
Target Juli Meleset, Pembebasan Lahan TPA Cipeucang Kini Ditargetkan Rampung Desember 2026
Warung Madura di Ciputat Kebakaran, Kerugian Capai Rp150 Juta
Kekeringan di Tangsel Meluas Hingga Kecamatan Serpong, 222 KK Krisis Air Bersih

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:25 WIB

Kementerian PU Akan Tata Wilayah Tangsel, Kemacetan Hingga Banjir Menjadi Sorotan

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:41 WIB

Serpong Jadi Wilayah dengan Angka Stunting Terbanyak di Tangsel, 60 Anak Dapat Intervensi

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 18:10 WIB

Lansia Disekap di Apartemen Serpong, Mobil Hingga Handphone Digasak Pelaku

Jumat, 7 Agustus 2026 - 19:17 WIB

Penderita ISPA di Tangsel Meningkat Selama Musim Kemarau 2026

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:51 WIB

Target Juli Meleset, Pembebasan Lahan TPA Cipeucang Kini Ditargetkan Rampung Desember 2026

Berita Terbaru