Di Desa Sangiang, Kabupaten Tangerang, kisah hidup Komarullah SH menjadi inspirasi bagi banyak orang. Lahir pada 2 April 1968 dari pasangan Hj. Asni binti H. Anding dan Abdul Majid bin Abdul Wahid, perjalanan hidupnya sejak kecil sudah penuh liku. Ayahnya seorang pegawai Departemen Agama, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga. Namun, kehidupan keluarga Komarullah berubah sejak kedua orang tuanya bercerai saat ia masih bayi.
Diasuh oleh sang kakek yang berprofesi sebagai petani, Komarullah menghabiskan masa kecilnya dengan menggembala kerbau dan bekerja di ladang. Dari hasil bertani, ia membiayai sekolahnya sendiri hingga lulus SMA. Keteguhan hati dan kerja keras menjadi bekal utama dalam hidupnya.
Dari Guru Honorer hingga Aktivis Masyarakat
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah menamatkan pendidikan di SMA Mulia Budi Sepatan, Komarullah sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Pertanian Menengah Atas, namun kemudian memilih jalur akademis untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Ia menjadi guru honorer di SDN Sangiang 2 sejak 1988 dan menikahi Wiwin Winarni pada tahun 1990. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai lima orang anak.
Tahun 1992, Komarullah memulai karier birokrasi sebagai Sekretaris Desa Sangiang hingga 1998. Selepas itu, ia kembali ke dunia pertanian dan berdagang buah di Kota Tangerang. Namun, pengabdiannya pada masyarakat tak pernah surut. Ia aktif di LSM KIPANG, menjadi Ketua BPD Desa Sangiang (2008–2014), dan Ketua Forum BPD Kecamatan Sepatan Timur. Ia juga dipercaya memimpin Badan Pengawas UPK Sepatan Timur, mengawal berbagai program peningkatan ekonomi rakyat.
Kembali ke Bangku Kuliah dan Menjadi Kepala Desa
Di tengah kesibukannya, Komarullah tidak melupakan impiannya untuk meraih pendidikan tinggi. Ia kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Painan dan lulus pada tahun 2016 dengan IPK 3,38. Tak lama setelah itu, takdir membawanya kembali ke pemerintahan desa. Saat Kepala Desa Sangiang meninggal dunia pada 2018, Komarullah yang saat itu menjabat Ketua BPD, dipercaya memimpin melalui proses pemilihan antar waktu (PAW).
Baca Juga:
AutoFlight Sukses Lakukan Pengiriman Teh dengan eVTOL Kelas 2 Ton Pertama di Tiongkok
Aksi Nekat di Pabrik Nikomas, Pelaku Utama Masih Buron Usai 3 Rekannya Disidang
Kepemimpinannya kemudian berlanjut setelah ia kembali terpilih dalam Pilkades serentak 2021, mengalahkan tiga calon lainnya. Masa jabatannya yang seharusnya berakhir 2027 kini diperpanjang hingga 2029.
Ketua APDESI yang Menghidupkan Solidaritas Desa
Perjalanan pengabdian Komarullah tidak berhenti di kursi Kepala Desa. Ia dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kecamatan Sepatan Timur. Dalam peran ini, Komarullah memperlihatkan ketegasan, keberanian bersikap, dan kemampuan menjalin komunikasi lintas kepentingan.
Bagi Komarullah, APDESI bukan sekadar organisasi seremonial. Ia ingin menjadikannya sebagai rumah bersama bagi para kepala desa — tempat berbagi, menyatukan langkah, dan memperjuangkan hak-hak desa. Ia rutin menggelar pertemuan formal dan informal guna membangun kepercayaan antar kepala desa. Komarullah menanamkan pentingnya integritas, transparansi, dan kebersamaan dalam membangun desa.
Ia juga menginisiasi berbagai program yang mendorong partisipasi desa dalam pencapaian target 100 Desa Mandiri di Kabupaten Tangerang. Dengan semangat kemandirian, ia mengajak para kepala desa untuk menggali potensi lokal dan mengurangi ketergantungan pada bantuan pemerintah.
Baca Juga:
Gas Subsidi Disulap Jadi LPG 12 Kg! Pertamina Langsung Putus Kontrak Pangkalan Nakal
20 Truk Disalurkan ke Koperasi Merah Putih Cilegon, Harga Pangan Siap Ditekan!
Ruang Kelas Tak Ada, Puluhan Siswa Siswa SD di Pandeglang Belajar di Musala
Pemimpin Lapangan yang Merakyat
Komarullah dikenal sebagai pemimpin yang tidak hanya memimpin dari belakang meja. Ia aktif ronda malam, mengawasi pembangunan, hingga berdialog langsung dengan warga. Sikapnya ini menular ke para kepala desa lain. Di bawah kepemimpinannya, APDESI Sepatan Timur menjadi organisasi yang lebih hidup, lebih peka, dan lebih solid dalam merespon kebutuhan masyarakat.
Menjadi Simbol Keteladanan Pemimpin Desa
Kisah hidup Komarullah adalah cerminan perjuangan tanpa henti. Dari menggembala kerbau di ladang hingga memimpin sebuah desa, ia menunjukkan bahwa ketulusan, keteguhan, dan kerja keras adalah jalan menuju keberhasilan. Ia menjadi simbol bahwa dari desa, sebuah semangat besar untuk membangun bangsa bisa menyala.
Dalam setiap langkahnya, Komarullah membuktikan bahwa pemimpin yang lahir dari rakyat dan berjuang untuk rakyat adalah aset berharga bagi negeri ini.









