Komarullah SH: Dari Ladang ke Balai Desa, Menjadi Pemimpin Tangguh dari Sangiang

- Pewarta

Selasa, 10 Juni 2025 - 09:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di Desa Sangiang, Kabupaten Tangerang, kisah hidup Komarullah SH menjadi inspirasi bagi banyak orang. Lahir pada 2 April 1968 dari pasangan Hj. Asni binti H. Anding dan Abdul Majid bin Abdul Wahid, perjalanan hidupnya sejak kecil sudah penuh liku. Ayahnya seorang pegawai Departemen Agama, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga. Namun, kehidupan keluarga Komarullah berubah sejak kedua orang tuanya bercerai saat ia masih bayi.

Diasuh oleh sang kakek yang berprofesi sebagai petani, Komarullah menghabiskan masa kecilnya dengan menggembala kerbau dan bekerja di ladang. Dari hasil bertani, ia membiayai sekolahnya sendiri hingga lulus SMA. Keteguhan hati dan kerja keras menjadi bekal utama dalam hidupnya.

Dari Guru Honorer hingga Aktivis Masyarakat

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah menamatkan pendidikan di SMA Mulia Budi Sepatan, Komarullah sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Pertanian Menengah Atas, namun kemudian memilih jalur akademis untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Ia menjadi guru honorer di SDN Sangiang 2 sejak 1988 dan menikahi Wiwin Winarni pada tahun 1990. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai lima orang anak.

Tahun 1992, Komarullah memulai karier birokrasi sebagai Sekretaris Desa Sangiang hingga 1998. Selepas itu, ia kembali ke dunia pertanian dan berdagang buah di Kota Tangerang. Namun, pengabdiannya pada masyarakat tak pernah surut. Ia aktif di LSM KIPANG, menjadi Ketua BPD Desa Sangiang (2008–2014), dan Ketua Forum BPD Kecamatan Sepatan Timur. Ia juga dipercaya memimpin Badan Pengawas UPK Sepatan Timur, mengawal berbagai program peningkatan ekonomi rakyat.

Kembali ke Bangku Kuliah dan Menjadi Kepala Desa

Di tengah kesibukannya, Komarullah tidak melupakan impiannya untuk meraih pendidikan tinggi. Ia kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Painan dan lulus pada tahun 2016 dengan IPK 3,38. Tak lama setelah itu, takdir membawanya kembali ke pemerintahan desa. Saat Kepala Desa Sangiang meninggal dunia pada 2018, Komarullah yang saat itu menjabat Ketua BPD, dipercaya memimpin melalui proses pemilihan antar waktu (PAW).

Kepemimpinannya kemudian berlanjut setelah ia kembali terpilih dalam Pilkades serentak 2021, mengalahkan tiga calon lainnya. Masa jabatannya yang seharusnya berakhir 2027 kini diperpanjang hingga 2029.

Ketua APDESI yang Menghidupkan Solidaritas Desa

Perjalanan pengabdian Komarullah tidak berhenti di kursi Kepala Desa. Ia dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kecamatan Sepatan Timur. Dalam peran ini, Komarullah memperlihatkan ketegasan, keberanian bersikap, dan kemampuan menjalin komunikasi lintas kepentingan.

Bagi Komarullah, APDESI bukan sekadar organisasi seremonial. Ia ingin menjadikannya sebagai rumah bersama bagi para kepala desa — tempat berbagi, menyatukan langkah, dan memperjuangkan hak-hak desa. Ia rutin menggelar pertemuan formal dan informal guna membangun kepercayaan antar kepala desa. Komarullah menanamkan pentingnya integritas, transparansi, dan kebersamaan dalam membangun desa.
Ia juga menginisiasi berbagai program yang mendorong partisipasi desa dalam pencapaian target 100 Desa Mandiri di Kabupaten Tangerang. Dengan semangat kemandirian, ia mengajak para kepala desa untuk menggali potensi lokal dan mengurangi ketergantungan pada bantuan pemerintah.

Pemimpin Lapangan yang Merakyat

Komarullah dikenal sebagai pemimpin yang tidak hanya memimpin dari belakang meja. Ia aktif ronda malam, mengawasi pembangunan, hingga berdialog langsung dengan warga. Sikapnya ini menular ke para kepala desa lain. Di bawah kepemimpinannya, APDESI Sepatan Timur menjadi organisasi yang lebih hidup, lebih peka, dan lebih solid dalam merespon kebutuhan masyarakat.

Menjadi Simbol Keteladanan Pemimpin Desa

Kisah hidup Komarullah adalah cerminan perjuangan tanpa henti. Dari menggembala kerbau di ladang hingga memimpin sebuah desa, ia menunjukkan bahwa ketulusan, keteguhan, dan kerja keras adalah jalan menuju keberhasilan. Ia menjadi simbol bahwa dari desa, sebuah semangat besar untuk membangun bangsa bisa menyala.

Dalam setiap langkahnya, Komarullah membuktikan bahwa pemimpin yang lahir dari rakyat dan berjuang untuk rakyat adalah aset berharga bagi negeri ini.

Berita Terkait

Komisi I DPRD Tangsel Temukan 2 Lapangan Padel Tak Berizin, Minta Satpol PP Panggil Pemilik
Pembebasan Lahan Belum Terlaksana, Ground Breaking PSEL TPA Cipeucang Ditargetkan 2028
Ratusan Porsi MBG di Pandeglang Berakhir Jadi Pakan Ternak
Pemkot Siapkan Dana Rp40 Miliar, Pembebasan Lahan Cipeucang Masuk Tahap Awal
Benyamin Beberkan SiLPA Tangsel 2025 Capai Rp478 Miliar
GP Ansor Nilai Perpanjangan Sekda Tangsel Tertutup, Akan Layangkan Keberatan ke Gubernur Banten
Emas 30.000 Ton Ditemukan di Banten, Kekayaannya Lama Dikuasai Pihak Asing
Masih Berseragam Sekolah, Pelajar di Tangerang Ini Diduga Terlibat 20 Aksi Curanmor

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 20:19 WIB

Komisi I DPRD Tangsel Temukan 2 Lapangan Padel Tak Berizin, Minta Satpol PP Panggil Pemilik

Senin, 15 Juni 2026 - 19:30 WIB

Pembebasan Lahan Belum Terlaksana, Ground Breaking PSEL TPA Cipeucang Ditargetkan 2028

Senin, 15 Juni 2026 - 19:22 WIB

Ratusan Porsi MBG di Pandeglang Berakhir Jadi Pakan Ternak

Senin, 15 Juni 2026 - 15:53 WIB

Pemkot Siapkan Dana Rp40 Miliar, Pembebasan Lahan Cipeucang Masuk Tahap Awal

Senin, 15 Juni 2026 - 14:31 WIB

Benyamin Beberkan SiLPA Tangsel 2025 Capai Rp478 Miliar

Berita Terbaru

Info Banten

Ratusan Porsi MBG di Pandeglang Berakhir Jadi Pakan Ternak

Senin, 15 Jun 2026 - 19:22 WIB

Info Banten

Benyamin Beberkan SiLPA Tangsel 2025 Capai Rp478 Miliar

Senin, 15 Jun 2026 - 14:31 WIB