KPK Periksa Bos Rokok Haji Her, Dugaan Skandal Cukai DJBC Terkuak!

- Pewarta

Jumat, 10 April 2026 - 09:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HARIAN BANTEN – Langkah KPK memeriksa bos rokok Khairul Umam alias Haji Her memicu sorotan tajam. Dugaan praktik “main mata” dalam pengurusan cukai di Bea Cukai kini mulai terkuak ke publik.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengembangkan penyidikan dugaan korupsi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan. Pada Kamis (9/4/2026), penyidik memeriksa pengusaha rokok Khairul Umam atau Haji Her di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan. Selain itu, dua saksi lain juga dipanggil, yakni wiraswasta berinisial WLG dan pegawai Bea Cukai berinisial SA yang tercatat sudah hadir sejak pukul 09.46 WIB.

“Ini kan banyak ya beberapa pengusaha rokok yang sedang dipanggil, dimintai keterangan,” ujar Juru Bicara KPK Budi Prasetyo di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemeriksaan ini difokuskan pada pendalaman praktik pengurusan kepabeanan dan cukai oleh perusahaan rokok. KPK juga menelusuri kemungkinan adanya praktik di luar standar operasional prosedur (SOP), termasuk dugaan aliran dana kepada oknum di lingkungan DJBC.

“Nanti kita akan dalami, kita akan analisis setiap keterangan yang diberikan oleh para pengusaha rokok tersebut,” tutur Budi.

Kasus ini merupakan pengembangan dari operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar pada 4 Februari 2026. Dalam perkara tersebut, sejumlah pihak telah ditetapkan sebagai tersangka, termasuk Kepala Seksi Intelijen Cukai P2 DJBC Budiman Bayu Prasojo yang ditahan pada 27 Februari 2026. Para tersangka diduga memanipulasi pembelian pita cukai dengan tarif lebih rendah dalam jumlah besar, meskipun terdapat perbedaan tarif antara rokok produksi manual dan mesin.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi tata kelola cukai di Indonesia. Publik kini menanti sejauh mana KPK mampu mengungkap praktik tersembunyi yang berpotensi merugikan negara.

Sumber Berita: inilah.com

Berita Terkait

Dinamai Sambo, Sapi 1,1 Ton Asal Tangerang Dibeli Presiden Prabowo untuk Idul Adha 2026
Pria Gali Makam Ibu Kandung Di Sengkol Dicari Polisi, Ini Penyebabnya
Ngaku Bisa Gandakan Uang Rp200 Ribu Jadi Rp1 Miliar, “Eyang Sapu Jagad” di Tangsel Ditangkap Usai Diduga Lecehkan Korban
Sinar Mas Land Kembali Raih Penghargaan Tertinggi di 3G Awards 2026
Hunian premium Botanic Villa di NavaPark, BSD City, Sukses Terjual Habis Hanya Dalam Waktu Kurang Dari Lima Bulan Sejak Diluncurkan pada Oktober 2025.
Sekda Tangsel Habis Masa Jabatan 19 April 2026, Diperpanjang atau Diganti?
Rano Alfath Desak Polisi Tangkap Pengasuh Pondok Pesantren di Pati yang Cabuli Puluhan Santriwati
Tak Mau Terulang, Bekasi Siapkan Sensor Canggih di Perlintasan Liar KRL

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 18:50 WIB

Dinamai Sambo, Sapi 1,1 Ton Asal Tangerang Dibeli Presiden Prabowo untuk Idul Adha 2026

Sabtu, 9 Mei 2026 - 19:03 WIB

Pria Gali Makam Ibu Kandung Di Sengkol Dicari Polisi, Ini Penyebabnya

Sabtu, 9 Mei 2026 - 12:34 WIB

Ngaku Bisa Gandakan Uang Rp200 Ribu Jadi Rp1 Miliar, “Eyang Sapu Jagad” di Tangsel Ditangkap Usai Diduga Lecehkan Korban

Jumat, 8 Mei 2026 - 11:11 WIB

Sinar Mas Land Kembali Raih Penghargaan Tertinggi di 3G Awards 2026

Jumat, 8 Mei 2026 - 10:58 WIB

Hunian premium Botanic Villa di NavaPark, BSD City, Sukses Terjual Habis Hanya Dalam Waktu Kurang Dari Lima Bulan Sejak Diluncurkan pada Oktober 2025.

Berita Terbaru

Info Banten

Polisi Selidiki Dugaan ‘Child Grooming’ di SMK Letris Pamulang

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:58 WIB