HARIANBANTEN — Krisis sampah di Kota Tangerang Selatan kembali menjadi sorotan publik. Penumpukan sampah di sejumlah kawasan permukiman dan ruang publik terjadi seiring keterbatasan daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, yang kini berada pada kondisi kritis.
Anggota DPRD Kota Tangerang Selatan, Dr. Ferdiansyah, menilai situasi ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Tangsel belum siap menghadapi dinamika kota yang terus berkembang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Darurat sampah yang kita alami hari ini adalah bukti bahwa sistem pengelolaan sampah Tangsel belum siap. Ini bukan sekadar persoalan teknis, tapi masalah tata kelola,” ujar Ferdiansyah, Selasa (23/12).
Menurutnya, ketergantungan jangka panjang pada satu TPA tanpa skema cadangan yang memadai membuat Tangsel berada dalam posisi rentan. Ketika terjadi gangguan operasional, dampaknya langsung dirasakan masyarakat dalam bentuk sampah yang menumpuk.
Baca Juga:
AutoFlight Sukses Lakukan Pengiriman Teh dengan eVTOL Kelas 2 Ton Pertama di Tiongkok
Aksi Nekat di Pabrik Nikomas, Pelaku Utama Masih Buron Usai 3 Rekannya Disidang
Ferdiansyah juga menyinggung sanksi administratif dari pemerintah pusat di sektor lingkungan. Ia menilai, langkah tersebut seharusnya menjadi pemicu evaluasi menyeluruh, bukan hanya penanganan darurat jangka pendek.
“Selama ini pendekatan kita masih berfokus di hilir, memindahkan dan menimbun sampah. Padahal, persoalan utama ada di hulu—pengurangan, pemilahan, dan perubahan perilaku,” tegasnya.
Baca Juga:
Gas Subsidi Disulap Jadi LPG 12 Kg! Pertamina Langsung Putus Kontrak Pangkalan Nakal
20 Truk Disalurkan ke Koperasi Merah Putih Cilegon, Harga Pangan Siap Ditekan!
Ruang Kelas Tak Ada, Puluhan Siswa Siswa SD di Pandeglang Belajar di Musala
Terkait rencana proyek jangka panjang seperti pengolahan sampah menjadi energi listrik, Ferdiansyah mengingatkan agar publik tidak menggantungkan harapan instan. Ia menyebut, proyek tersebut tetap penting, namun membutuhkan waktu sebelum memberikan dampak nyata.
“Solusi jangka panjang tetap harus berjalan, tapi solusi jangka pendek dan menengah juga harus realistis dan terukur,” katanya.
Ia menambahkan, penanganan sampah di Tangsel membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, provinsi, pusat, dunia usaha, hingga partisipasi aktif masyarakat.
“Kalau Tangsel ingin menjadi kota modern, maka layanan dasar seperti pengelolaan sampah harus benar-benar siap. Kalau tidak, krisis seperti ini akan terus berulang,” pungkas Ferdiansyah.










